Mengarungi Zaman Tanpa Menanggalkan Akar: Refleksi Identitas Payakumbuh
Oleh Adal Bonai
Ada kebiasaan yang sering dilakukan ketika memperkenalkan kampung sendiri, membandingkannya dengan daerah lain yang lebih dahulu terkenal. Payakumbuh kerap disebut sebagai "Bandungnya Sumatera". Julukan itu mungkin lahir dari kekaguman terhadap udara yang sejuk, kuliner yang beragam, atau suasana kota yang nyaman. Namun, bukankah Payakumbuh tetap dapat berdiri dengan namanya sendiri?
Tanah Minangkabau tidak pernah melahirkan pemikir-pemikir besarnya dengan cara meniru tapi belajar banyak hal dan menghasilkan buah pikir. Dari rantau yang jauh, dari surau-surau kecil, dari Nagari yang sederhana, lahir manusia-manusia yang mengguncang zaman, yang merumuskan proklamasi tanpa kehilangan akar adatnya, yang berpidato di forum dunia sebagai dirinya sendiri, yang menulis pemikiran keislaman dan kebangsaan dari sudut pandang yang tidak dipinjam dari siapa pun. Mereka besar bukan karena menyerupai bangsa lain, melainkan karena berani menjadi Minangkabau secara utuh dengan alam, adat, dan ilmu yang mengalir dari Nagari sebagai gurunya. "Alam takambang jadi guru" bukan sekadar pepatah usang, itu adalah cara pandang yang membuat perantau kampung bisa duduk sejajar dengan siapa saja, sebab ia datang bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai dirinya sendiri.
Payakumbuh tidak harus menjadi Bandung agar pantas dibanggakan. Kota ini memiliki karakter, sejarah, budaya, bahasa, rasa, dan ingatannya sendiri. Ada bentang alam yang tumbuh bersama kehidupan masyarakatnya, ada tradisi Minangkabau yang terus dijaga, ada kuliner yang cita rasanya tidak dapat digantikan, dan ada keramahan yang hanya dapat dirasakan ketika benar-benar datang dan tinggal di dalamnya.
Ketika selalu membawa nama daerah lain untuk menjelaskan kampung halaman, tanpa disadari sama saja menempatkan daerah sendiri sebagai bayangan. Seolah-olah sebuah tempat baru dianggap menarik apabila menyerupai yang sudah populer. Padahal, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah mengajarkan bahwa martabat sebuah kaum, sebuah Nagari, bahkan sebuah pribadi, berdiri di atas prinsipnya sendiri bukan di atas perbandingan dengan yang lain. Kebanggaan kedaerahan yang sehat lahir dari keberanian untuk mengenali, merawat, dan memperkenalkan identitas sendiri, sama seperti para tokoh terdahulu yang membawa nama Nagari dan surau mereka ke panggung dunia tanpa pernah menanggalkannya.
Aku orang Payakumbuh, kemanapun kakiku melangkah aku membawa nama kampung kecilku, Bonai. Aku tidak perlu mengatakan bahwa Payakumbuh adalah Bandungnya Sumatera untuk menjelaskan mengapa kota ini istimewa. Payakumbuh adalah Payakumbuh, kota yang tumbuh di antara adat, alam, perdagangan, kuliner, dan kehidupan masyarakat yang hangat. Nama itu sudah cukup. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang para pendahulu, cerita keluarga, kenangan masa kecil, serta harapan generasi yang akan datang, generasi yang hari ini mulai kembali menghidupkan semangat keilmuan
itu, ruang-ruang belajar baru, kajian, tulisan, dan gerakan-gerakan kecil yang tumbuh dari anak Nagari sendiri, sebagaimana surau dahulu menjadi tempat lahirnya pemikiran besar.
Semangat seperti ini juga berlaku bagi setiap daerah. Bukittinggi tidak perlu menjadi kota lain. Padang tidak perlu disebut menyerupai kota lain. Solok, Pariaman, Sawahlunto, Batusangkar, dan seluruh daerah di Indonesia memiliki warna masing-masing. Setiap kampung halaman memiliki alasan untuk dicintai, bukan karena kemiripannya dengan tempat lain, melainkan karena keunikannya sendiri sebagaimana
setiap tokoh besar dari ranah ini besar dengan jalannya masing-masing, namun tetap berakar pada nagari yang sama.
Mencintai kampung halaman bukan berarti merasa lebih tinggi daripada daerah lain. Kebanggaan yang sehat justru membuat menghormati identitas setiap tempat. Mengagumi Bandung tanpa harus menjadikan Payakumbuh sebagai tiruannya. Aku dapat belajar dari kemajuan kota lain sebagaimana para pendahulu
dahulu pergi merantau untuk menuntut ilmu ke berbagai penjuru dunia tanpa kehilangan akar dan nama sendiri. Merantau bagi urang Minang bukan untuk menjadi orang lain, tetapi untuk pulang membawa
ilmu dan tetap menjadi diri sendiri yang lebih utuh.
Sudah saatnya berhenti memperkenalkan kampung halaman melalui bayang-bayang daerah lain. Menyebut Payakumbuh dengan penuh keyakinan, dengan semangat yang sama yang dahulu membuat
anak-anak Nagari ini berani berdiri di depan dunia. Ceritakan alamnya, makanannya, budayanya, masyarakatnya, dan segala hal yang membuatnya hidup. Sebab Payakumbuh tidak membutuhkan embelembel untuk menjadi istimewa.
Payakumbuh punya warna sendiri. Payakumbuh punya cerita sendiri. Payakumbuh punya nama sendiri.
Dan bagiku yang berasal dari sana, nama itu adalah kebanggaan. Mentalitas Payakumbuh.
Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan.
