AKSARA: Mencari Jejak yang Hilang di Tanah Pagaruyung
Judul Buku : AKSARA: Mencari Jejak yang Hilang di Tanah Pagaruyung
Penulis : Nova
Penata Letak : Feni Efendi
Desain Sampul : Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit PAJACOMBO di bawah lini PT. Pajacombo Tanah Payau
Jl. Simpang Politani – Gurun. Tolang, Jorong Koto Tongah, Nagari Lubuak Batingkok,
Kec. Harau, Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 26271
HP/WA: 082384852758
Email: pajacombo@gmail.com
Website: www.pajacombo.com
Cetakan Pertama, September 2026
viii + 79 hlm: 13 x19 cm
Font Book Antiqua, 1,15 Spasi, Size 10,5
SINOPSIS
Zizi, seorang tenaga ahli cagar budaya yang sedang menempuh studi Manajemen Pendidikan, menemukan sebuah naskah kuno milik mendiang kakeknya di sebuah rumah tua di Batusangkar. Naskah tersebut menyebutkan tentang duo baleh kode tak terucap sebuah sistem etika tradisional yang konon menjadi kunci kemakmuran Minangkabau di masa lalu namun kini mulai terlupakan.
Perjalanannya membawa Zizi melintasi wilayah-wilayah ikonik dari misteri batu yang bersujud di Pantai Air Manis, gema rantai di lubang tambang Sawahlunto, hingga keheningan tebing granit di Lembah Harau. Di setiap kota, ia harus memecahkan teka-teki yang tersembunyi dalam cerita rakyat setempat untuk memahami satu demi satu butir kode etik itu.
Namun, Zizi tidak sendiri. Ada pihak yang ingin menghapus jejak sejarah tersebut demi modernisasi yang hampir buta. Bersama seorang rekan alumni akademisi dari universitas ternama Ani, Zizi harus berpacu dengan waktu sebelum identitas budaya tanah kelahirannya terkikis habis oleh zaman, yang dilakukannya bukan hanya perjalanan fisik semata, melainkan perjalanan pulang menuju jati diri seorang anak bangsa. Zizi harus menjalani ritual perjalanan fisik dan batin melintasi berbagai wilayah ikonik untuk mengaktifkan dua belas artefak kunci Di Tanah Datar, ia mempelajari landasan mufakat di Batu Batikam dan menerima mandat kepemimpinan yang mengayomi di Istano Basa Pagaruyung.
Di Pesisir dan Tambang, ia belajar tentang bahaya ambisi yang melupakan akar di Pantai Air Manis, kesucian ilmu di Ulakan, dan empati kemanusiaan di kegelapan tambang batu bara Sawahlunto. Di Pegunungan, ia diuji oleh integritas di Sungai Janiah, kesetiaan prinsip di labirin Ngalau Indah, dan keikhlasan melepaskan ego dalam ritual Tabuik di Pariaman.
Ketegangan meningkat saat Tuan Morgan mulai menggunakan otoritas pemerintah dan teknologi drone untuk mengejar Zizi, memaksa mereka masuk ke wilayah perbatasan yang berbahaya. Di Pasaman, Zizi belajar tentang otoritas perlindungan dari simbol Harimau Campo, dan di Dharmasraya, ia memahami diplomasi perdamaian. Puncak perjuangan fisik terjadi di Solok Selatan, di mana kekuatan kolektif warga Saribu Rumah Gadang berhasil membendung alat berat korporasi hanya dengan kekuatan persatuan kaum (Kode ke-12).
Konfrontasi akhir pecah di Puncak Gunung Talamau. Di sana, Tuan Morgan mencoba merebut naskah tersebut untuk mendapatkan koordinat mineral langka. Namun, naskah itu bereaksi terhadap niat buruk; energi dari Gunung Talamau melumpuhkan teknologi modern Morgan, membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki sistem pertahanan yang melampaui logika pasar.
Setelah berhasil mempertahankan naskah, Andini tidak menyimpannya untuk diri sendiri. Ia kembali ke universitas dan mengintegrasikan Duo Baleh Kode tersebut ke dalam sistem pendidikan modern melalui kurikulum Alam Takambang Jadi Guru.
