BERLIBUR KE AMSTERDAM DENGAN PETA SEHARGA 2 GULDEN
Karya Feni Efendi
Amsterdam seperti bunga tulip di musim semi. Bunga-bunga yang mengingatkannya pada Nyonya Maria yang lembut. Lahir beberapa tahun sebelum kakeknya ada di dunia. Dan ia ingin berkenalan dengan Nyonya Maria.
Nyonya Maria suka bersampan di kanal Amsterdam. Airnya sedingin memoriam yang tertinggal di sana. Ia menanam bunga tulip, lily, dan beberapa kamboja di taman kota. Ia menunggang kuda di hari Minggu. Membuat keju di Sabtu sore. Dan pungung tangan Nyonya Maria mengingatkannya pada peta yang dibuat di tahun 1949. Peta yang berwarna oranye. Berbunyi bom dan tembakan mitraliur. Pesawat Catalina juga melayang di sana.
Saat ini ia berlibur di Amsterdam. Berkeliling kota dengan peta seharga 2 gulden. Gulden yang mirip Operasi Kraai, Perundingan Roem-Royen, Desa Putten, dasi kupu-kupu, cerutu, dan racikan tembakau yang baunya terhirup sampai ke Den Haag. Ia ingin menyelam ke dalam peta yang seharga 2 gulden. Berlari menjauhi Red Light District; menyelami kanal-kanal di musim semi, bermimpi di kebun tulip, dan membuat keju di musim dingin.
Ia berlibur ke Amsterdam dengan peta seharga 2 gulden. Peta yang pandai menggambarkan di mana Dr. Willem Drees, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jenderal Soedirman, Soekarno-Hatta, Soetan Sjahrir, Dr. Louis Beel, Jenderal Spoor, ataupun Merle Cochran. Dan terkadang ia ingin menangis di dalam peta ini. Peta yang pernah ditawar seharga 2 gulden; Peta yang membawa Bukittinggi dan Maguwo menjadi oranye. Seoranye memoriam yang meneruka sejarah.
Ia ingin menangis ke dalam peta-peta ini. Peta yang pernah ditawar seharga 2 gulden. Ditawar oleh mata-mata yang pernah menjadi dokter di kampung ini. Mata-mata yang lebih suka kembali ke Amsterdam. Mata-mata yang pernah ingin mendirikan negara boneka di atas peta ini. Mata-mata yang mati kesepian. Mati di atas peta Amsterdam.
Payakumbuh, 2017
