NAIK TREM DI ROTTERDAM

 


Karya Feni Efendi

Naik trem di Rotterdam. Tanah yang mengingatnya pada Dr. Van Royen, Mr. Moehammad Roem, dan Jenderal Spoor. Trem yang membawanya ke meja-meja kasino, ke butik gaun yang terpasang di boneka-boneka; gaun yang membuat sepasang remaja cepat-cepat ingin jadi pengantin; gaun yang juga ditonton oleh para suami; ditonton oleh Ibu Perdana Menteri yang selalu memakai parfum terbaru. Parfum yang menghiasai meja piano; menghiasi kantor-kantor di kampung ini; kantor-kantor yang dibangun dari dasi kupu-kupu; dari sisa kusamnya memoriam; dari berdarahnya tanah-tanah di Negeri Seberang Lautan; tanah yang tidak pernah henti mengubur luka-luka; tentang luka-luka yang dipotret; potret yang membuat dunia ragu untuk menangis; tidak membuat Ibu Perdana Menteri susah tidur, dan tidak membuat gedung Tweede Kamer jadi muram.

Naik trem di Rotterdam. Tanah yang mengingatkannya pada bahasa melayu. Bahasa ibu di Negeri Seberang Lautan. Meneruka sejarah di kampung ini. Kampung-kampung yang terpinggir; semakin gelap oleh alat-alat berat yang meratakan tanah-tanah; tanah yang membuatnya harus menanam kentang; membuat keju jauh ke pedalaman. Mereka rindu kepada suara anak-anak yang fasih berbahasa melayu, kepada anak-anak gadis berbaju kurung, kepada istri-istri yang cekatan memakai kerudung, kepada ibu-ibu yang setia mengunyah sirih. Mereka tidak lagi mengenal siapa yang datang ke kampung ini. Ia datang membawa anak-anak mereka ke meja-meja kasino, ke rumah-rumah bordir, ke hotel kelas melati, ke gudang-gudang keju yang menjerat hidup. Gudang-gudang yang membuat mereka tidak mudah lagi berkumpul; membuat lupa bagaimana cara berbahasa melayu; membuat canggung bagaimana cara memakai baju kurung, dan terkadang mereka heran mengapa anak-anak jadi suka menonton konser serta mencoret-coret dinding. 

Naik trem di Rotterdam. Tanah yang mengharuskan mereka membawa kartu ke pasar-pasar, ke rumah bordir, ke meja kasino yang dirazia orang-orang asing. Orang-orang yang tidak pernah mereka kenal jenis rambutnya, tidak pernah dikenal bahasanya, dan tiba-tiba saja menangkap mereka seperti pencuri untuk memeriksa kartu-kartu mereka. Kartu-kartu yang membuat mereka memilih menetap di pinggiran, di tepi- tepi memoriam agar selalu ingat kepada ibu-ibu mereka. Ibu-ibu yang mengajari berbahasa, mengajari bagaimana meneruka sejarah, mengajari bahwa mereka adalah melayu.

 

Payakumbuh, 2017 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url