Lorong Sunyi Penjaga Republik: Catatan Perjalanan dari Bidar Alam ke Pulau Punjung

 


Menyusuri lembaran sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selalu menyisakan kepingan kisah yang magis sekaligus getir. Sejak tahun 2017, ada satu rute yang terus mengusik rasa penasaran saya: jalur sunyi dari Bidar Alam di Solok Selatan menuju Pulau Punjung di Dharmasraya.

Rute ini bukan sekadar garis di peta, melainkan urat nadi perjuangan mempertahankan ibu kota yang runtuh. Di sinilah sejarah membelah diri menjadi dua jalur ekstrem. Jalur air—menyusuri riak Batang Sangir—menjadi pilihan Ketua PDRI Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama para pejabat lainnya. Sementara itu, jalur darat yang tak kalah menantang ditempuh oleh Wakil Ketua PDRI Mr. Moh. Hasan bersama para awak radio sender PHB AURI UDO.
 


Pengawal Gaib di Jalur Sunyi

Memori kolektif masyarakat di sepanjang jalur darat ini menyimpan satu kisah yang menggetarkan bulu kuduk sekaligus mengharukan. Saat membelah belantara, Mr. Moh. Hasan dan rombongan pembawa pemancar radio itu rupanya tidak pernah benar-benar sendirian. Sesosok inyiak—sebutan hormat masyarakat Minangkabau untuk harimau—setia membayangi langkah kaki mereka.

Jaraknya konstan, sekitar 50 meter di belakang rombongan. Ketika para pejuang yang kelelahan itu berhenti untuk menghela napas, sang raja hutan ikut merebahkan diri. Begitu langkah kaki puluhan kilometer kembali diayunkan, ia kembali terjaga.

Rasa takut yang mengganjal di dada perlahan luluh menjadi rasa syukur. Bagi rombongan, inyiak itu bukanlah ancaman, melainkan "ajudan gaib" yang diutus alam untuk menjaga mata rantai kemerdekaan Indonesia. Begitu aroma perkampungan penduduk mulai tercium, sosoknya lenyap begitu saja ke dalam rimbunnya hutan, meninggalkan warisan cerita dan kedekatan mistis yang hingga kini masih hidup dalam gerak-gerik Silat Pangian di daerah tersebut.
 


Kenyataan Getir di Tanah Galo

Senin siang itu, Oktober 2023, jam jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Setelah dilepas dengan doa oleh keluarga Nefryzal, saya akhirnya memulai napak tilas yang lama tertunda ini. Ditemani Aciak dan Iyet, roda kendaraan kami mulai melindas jalanan tanah yang kupak-kapik selepas daerah Abai.

Tiga jam lamanya kami dihantam guncangan jalan tanah yang seolah tak berujung. Di tengah kepungan debu dan sunyi, tepatnya di Kampung Tanah Galo, perjalanan kami sedikit berwarna saat bertemu dengan teman baru yang searah menuju Pulau Punjung.

Namun, romansa napak tilas sejarah ini segera pudar, berganti dengan tamparan realitas yang memprihatinkan.

Di sepanjang jalur bersejarah ini, waktu seolah berhenti berputar sejak zaman kemerdekaan. Pikiran saya menerawang jauh: Bagaimana jika di tengah malam yang buta, seorang ibu bersalin mengalami komplikasi dan harus segera dioperasi? Rumah sakit terdekat berada di Pulau Punjung, berkilo-kilometer melewati jalur yang tak layak sebut sebagai jalan ini.

Modernitas pun enggan singgah. Sinyal internet adalah barang mewah, yang hanya bisa ditangkap secara mandiri lewat modifikasi menara tiruan. Untuk urusan pendidikan, anak-anak usia SMA harus rela "merantau" ke nagari lain seperti Abai, Bidar Alam, atau Pulau Punjung demi bisa membaca masa depan.
 


 Utang Sejarah yang Terlupakan

Sangat ironis melihat bagaimana kawasan yang pernah menjadi pilar penyangga Republik ini justru terisolasi di halaman belakang pembangunan. Selama hampir tiga bulan, di atas tanah inilah Mr. Syafruddin Prawiranegara dan para menteri mengendalikan jalannya pemerintahan, memastikan bahwa Indonesia masih ada di peta dunia. Namun hari ini, kontribusi raksasa itu dibayar dengan kesunyian yang menyakitkan.

Puluhan kilometer jalan tanah yang rusak masih sama seperti berpuluh-puluh tahun lalu. Rumah dan bangunan bersejarah yang pernah melindungi para pemimpin bangsa kini lapuk dimakan usia, nyaris tak tersentuh oleh tangan pemerintah.

Napak tilas ini akhirnya meninggalkan satu refleksi mendalam. Sudah sepatutnya negara hadir di sini, bukan sebagai bentuk belas kasihan, melainkan sebagai wujud terima kasih dan pelunasan utang sejarah kepada daerah yang pernah menyelamatkan muka Republik.

Dari motor kendaraan yang berguncang hebat, saya hanya bisa menggantungkan harapan: semoga dari rahim tanah yang terabaikan ini, kelak lahir orang-orang besar yang tetap ingat jalan pulang untuk membangun kampung halamannya sendiri. Karena bagaimanapun, Indonesia hari ini berdiri di atas peluh dan darah yang tumpah di jalur sunyi Bidar Alam hingga Pulau Punjung.

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url