Brigjen Pol (Purn) Drs. Moechlis Moechtar
Brigjen Pol (Purn) Drs. Moechlis Moechtar merupakan sosok perwira tinggi kepolisian yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau, khususnya bagi warga Nagari Batu Payuang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Lahir dan besar di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama, Moechlis membawa integritas khas orang daerah dalam meniti karier di korps Bhayangkara. Keberhasilannya mencapai pangkat jenderal bintang satu adalah bukti nyata bahwa putra daerah dari pelosok Sumatera Barat mampu bersaing dan memberikan kontribusi besar di tingkat nasional.
Salah satu catatan sejarah terpenting dalam perjalanan kariernya adalah ketika ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau pada periode 1997 hingga 1998. Menariknya, saat pertama kali mengemban amanah sebagai Kapolda Riau, ia masih menyandang pangkat Kolonel Polisi (sebelum nomenklatur berubah menjadi Komisaris Besar). Penunjukan ini menunjukkan kepercayaan besar dari pimpinan Polri kala itu terhadap kemampuan manajerial dan kepemimpinan Moechlis dalam mengamankan wilayah Riau yang strategis dan dinamis. Masa kepemimpinan Moechlis di Riau berlangsung pada periode yang sangat krusial bagi sejarah Indonesia, yakni di masa transisi akhir orde baru menuju era reformasi. Sebagai Kapolda, ia dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga stabilitas keamanan di tengah gejolak sosial dan politik yang melanda tanah air. Kemampuannya dalam melakukan pendekatan persuasif kepada masyarakat Riau kala itu membuatnya dikenal sebagai sosok pemimpin yang tegas namun tetap mengedepankan dialog dalam penyelesaian konflik.
Keberhasilan Moechlis Moechtar tidak lepas dari latar belakang pendidikannya yang kuat sebagai lulusan Drs (Doktorandus) yang kemudian memperkuat kompetensinya dalam administrasi dan strategi kepolisian. Kenaikan pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal Polisi merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi tanpa henti yang ia berikan bagi bangsa. Meskipun telah purna tugas, nama beliau tetap harum dan sering dijadikan teladan bagi generasi muda di Kabupaten Lima Puluh Kota tentang pentingnya kerja keras dan pengabdian pada negara. Beliau pergi merantau untuk mengabdi, meraih kesuksesan di luar tanah kelahiran, namun tetap membawa nama baik Nagari Batu Payuang di pundaknya. Warisan kepemimpinan dan integritasnya akan selalu menjadi inspirasi bagi putra-putri daerah Lima Puluh Kota untuk terus berprestasi di tingkat nasional.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh