Brigjen Pol (Purn.) Sjahrel Achmad
Brigjen Pol (Purn.) Sjahrel Achmad merupakan salah satu putra terbaik Minangkabau yang mengabdikan hidupnya untuk korps kepolisian Republik Indonesia. Beliau lahir sebagai putra dari seorang Wali Nagari Sungai Balantiak, sebuah latar belakang keluarga yang menanamkan jiwa kepemimpinan dan dedikasi sosial sejak dini. Akar budaya beliau sangat kuat, berasal dari Balai Nan Duo, Nagari Koto Nan Ompek, di bawah naungan Suku Pitopang dalam pasukuan Datuak Simararajo Gayua. Karier kepolisian Sjahrel Achmad tercatat sangat cemerlang, terutama dalam bidang lalu lintas. Beliau pernah dipercaya mengemban jabatan strategis sebagai Direktur Lalu Lintas (Dir Lantas) di dua wilayah vital, yakni Polda Sumatera Utara dan Polda Metro Jaya. Kemampuan manajerialnya yang mumpuni di jalan raya ibu kota membuktikan kapasitasnya sebagai perwira yang tangguh. Selain di bidang lalu lintas, pengalaman kepemimpinannya semakin terasah saat menjabat sebagai Kapolwil Jambi, yang menjadi jembatan menuju tanggung jawab yang lebih besar di tingkat nasional.
Salah satu momen paling prestisius dalam karier militernya adalah ketika beliau terpilih menjadi Komandan Upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus di Istana Merdeka. Penugasan ini merupakan kehormatan tertinggi bagi seorang perwira, di mana kedisiplinan, ketegasan, dan wibawa diuji langsung di hadapan Presiden dan rakyat Indonesia. Prestasi ini menjadikannya sosok kebanggaan keluarga besar, termasuk kemenakan beliau, Jack Petto, serta seluruh masyarakat di tanah kelahirannya, Payakumbuh. Puncak karier struktural Sjahrel Achmad di kepolisian ditandai dengan jabatan sebagai Kapolda Kalimantan Barat dan Wakil Kepala Sespim Polri di Lembang. Saat menjabat sebagai orang nomor satu di Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, beliau dihadapkan pada tantangan besar yang menguji kemampuan diplomasi dan rasa kemanusiaannya. Masa kepemimpinannya di sana menjadi catatan emas sejarah karena keberhasilannya menjaga stabilitas wilayah dalam situasi yang penuh dinamika.
Keberhasilan yang paling monumental adalah peran krusial beliau dalam mendamaikan konflik etnis yang melibatkan suku Sambas, Dayak, dan Madura di Kalimantan Barat. Dengan pendekatan yang persuasif, adil, dan mengedepankan kearifan lokal, Sjahrel Achmad mampu meredam ketegangan dan membawa pihak-pihak yang bertikai ke meja perdamaian. Keberhasilannya memulihkan keamanan di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa beliau bukan sekadar penegak hukum, melainkan juga seorang juru damai yang memahami sosiologi masyarakat. Setelah menyelesaikan masa baktinya di kepolisian dengan pangkat Brigadir Jenderal, semangat pengabdian beliau tidak lantas padam. Alih-alih memilih masa pensiun yang santai, beliau justru mendedikasikan sisa usianya untuk dunia pendidikan dan keagamaan. Dikabarkan bahwa beliau memilih jalan sunyi dengan mendirikan sebuah pesantren di wilayah Bogor, Jawa Barat. Langkah ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritualitas dan pembentukan karakter generasi muda merupakan prioritas utama bagi beliau di masa purnatugas. Dari seorang anak Wali Nagari di Payakumbuh hingga menjadi jenderal yang mendamaikan konflik besar dan berakhir sebagai pembina umat di pesantren, beliau telah memberikan teladan tentang integritas. Sosoknya tetap dikenang sebagai perwira yang tegas namun rendah hati, yang memberikan kontribusi nyata bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh