Kapten Tantawi

 

Kapten Tantawi, lahir pada tahun 1923 di Balai Jariang, Nagari Air Tabit, Payakumbuh, adalah sosok pahlawan yang namanya terukir dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah putra dari ulama besar, Syekh Mustafa Abdullah, pimpinan Perguruan Thawalib Darul Funun El-Abbasiyah Padang Japang. Jejak perjuangan Kapten Tantawi mencapai puncaknya pada 15 Januari 1949, dalam peristiwa heroik yang dikenal sebagai Peristiwa Situjuah Batua, di mana beliau menghembuskan napas terakhirnya demi membela tanah air. Peristiwa Situjuah Batua terjadi pada masa Agresi Militer II Belanda, sebuah periode kelam dalam sejarah Indonesia. Saat itu, Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Kapten Tantawi, bersama para pejuang lainnya, tidak gentar menghadapi kekuatan militer Belanda yang jauh lebih besar. Pada 14 Januari 1949, sehari sebelum peristiwa tragis itu, Kapten Tantawi menghadiri rapat besar di Lurah Kincia, Situjuh Batua. Rapat yang dipimpin oleh Chatib Sulaiman, Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah, itu dihadiri oleh Bupati Militer dan sejumlah pimpinan pejuang lainnya. Mereka merumuskan strategi untuk menyerang dan merebut kembali Kota Payakumbuh yang saat itu dikuasai Belanda. Serangan ini bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa perjuangan rakyat Indonesia masih berkobar, sekaligus menepis propaganda Belanda yang mengklaim telah menguasai seluruh Indonesia.

Namun, rencana tersebut bocor ke telinga Belanda. Pada subuh 15 Januari 1949, saat para pejuang hendak melaksanakan shalat subuh, mereka diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Belanda. Dalam serangan itu, Chatib Sulaiman, Kapten Tantawi, dan puluhan pejuang lainnya gugur. Kapten Tantawi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Lurah Kincia Situjuah Batua. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan sebagai nama stadion di Kota Payakumbuh, yaitu Lapangan Kapten Tantawi (sekarang lokasi Balai Kota Payakumbuh). Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama lapangan sepak bola di Tanjung Pauh. Peristiwa Situjuah Batua dan pengorbanan Kapten Tantawi adalah simbol dari semangat juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Kisah ini mengajarkan kita tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta tanah air. Semoga semangat Kapten Tantawi dan para pahlawan lainnya terus menginspirasi generasi muda Indonesia untuk membangun bangsa yang lebih baik.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url