Mr. Laili Roesad
Mr. Laili Roesad, seorang perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, pada 19 September 1916, mencatatkan namanya dalam sejarah diplomasi Indonesia sebagai diplomat perempuan pertama yang berhasil menembus batas gender dan meraih posisi duta besar. Perjalanan hidup dan kariernya yang gemilang menjadi inspirasi bagi generasi perempuan Indonesia, membuktikan bahwa perempuan memiliki kemampuan dan hak yang sama untuk berkontribusi dalam kancah internasional.
Lahir dari pasangan Rusad Datuk Perpatih Baringek dan Hasnah, Laili Roesad tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mendukung pendidikan tinggi. Ibunya, Hasnah, merupakan lulusan MULO pertama di Padang, yang menunjukkan bahwa pendidikan perempuan telah menjadi perhatian penting dalam keluarga mereka. Laili menempuh pendidikan di Perguruan Adabiah, Padang, dan kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Hukum (Sekolah Hukum Tinggi) atas dorongan ayahnya, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Minangkabau Raad. Pada tahun 1941, ia meraih gelar sarjana hukumnya di Jakarta dengan penelitian tentang hukum konstitusi. Ketertarikannya pada hukum internasional membawanya ke London pada tahun 1950-1951 untuk memperdalam pengetahuannya.
Karier diplomasi Laili Roesad dimulai pada tahun 1954 ketika ia bertugas sebagai Counsellor pada Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York. Pada tahun yang sama, ia menjadi bagian dari delegasi Indonesia dalam Sidang Umum PBB ke-9. Keberhasilannya dalam menjalankan tugas-tugas diplomatik membawanya pada pencapaian tertinggi, yaitu pengangkatannya sebagai Duta Besar RI untuk Belgia dan Luksemburg pada tahun 1959. Ia menjadi duta besar perempuan pertama Indonesia, sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Jabatan ini diembannya hingga tahun 1964. Selanjutnya, pada tahun 1967-1970, ia dipercaya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Austria.
Dedikasi dan kontribusi Laili Roesad dalam dunia diplomasi diakui oleh negara dengan penganugerahan Bintang Jasa Utama pada 7 Agustus 1995. Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas jasa-jasanya dalam mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Laili Roesad meninggal dunia pada tahun 2003, meninggalkan warisan berharga bagi Indonesia. Perjalanan hidupnya adalah bukti nyata bahwa perempuan Indonesia mampu meraih prestasi gemilang di bidang diplomasi. Ia telah membuka jalan bagi generasi perempuan berikutnya untuk berkontribusi dalam hubungan internasional Indonesia. Semangat, dedikasi, dan kecerdasannya akan terus menginspirasi perempuan Indonesia untuk meraih impian mereka dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh