Toeloes bin Manan
Toeloes—lengkapnya Toeloes bin Manan—adalah seorang pamong praja di zaman Hindia Belanda di Medan dan Bupati Militer Indragiri Hulu yang meninggal ditembak oleh Belanda. Ia lahir di awal thun 1900-an di Parit Dalam, Nagari Taeh Baruah, Kabupaten Lima Puluh Kota dan meninggal 5 Januari 1949 di Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Istri pertamanya adalah Saleha dan dikaruniai seorang anak yang bernama Chairil Anwar (penyair terkemuka di Indonesia). Ibunya bernama Semin bersuku Sipisang dan ayahnya bernama H. Manan bersuku Piliang. Adapun saudaranya yang lain adalah Burhanudin, Abdurrauf, dan Zulbaidah. Sedangkan istri keduanya adalah Ramadona asal Guguk, Kabupaten Lima Puluh Kota, dengan dikaruniai 4 orang anak yaitu Thureza, Thuhilwa, Thuhilwi, Thuchairani (Upik).
Toeloes menamatkan pendidikannya di sekolah MULO dan ia diangkat pertama kalinya menjadi pegawai Belanda di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Setelah ia menjadi pamong praja di Medan dan melahirkan anak pertamanya di sana yaitu Chairil Anwar. Setelah itu, Toeloes diangkat menjadi Bupati Militer di Indragiri Hulu (1948—1949 dan ia meninggal dunia dalam peristiwa agresi militer kedua Belanda di Rengat pada 5 Januari 1949 yang menelan korban sekitar 2000—2600 jiwa. Dari peristiwa itu maka ditetapkanlah hari jadi Kabupaten Indragiri Hulu pada 5 Januari 1949.
Toeloes ditembak oleh tentara Belanda di halaman rumah dinasnya bersama Sekda Yohanes Simatupang. Ia ditembak oleh Belanda di hadapan anak dan istrinya dengan diseret keluar dari rumahnya dan ditembak di halaman dan jenazahnya dilemparkan ke Sungai Indragiri yang berada di seberang rumah dinasnya oleh Belanda. Alasan Belanda menyerang Indragiri Hulu karena menduga markas tentara RI di Riau berada di sana, selain alasan di atas, juga karena ingin menguasai wilayah ini karena kaya akan sumber daya alam.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh
