Sutan Chedoh Datuk Mangkuto Simarajo
Sutan Chedoh, seorang tokoh penting dalam sejarah Payakumbuh, muncul dalam catatan sejarah pada masa Perang Paderi dan awal masuknya kekuasaan kolonial Belanda di Luhak Lima Puluh. Perannya yang kontroversial, yaitu membantu Belanda, menjadikannya figur yang menarik untuk ditelusuri. Ketika Belanda memasuki Luhak Lima Puluh Kota pada Oktober 1832, mereka menghadapi perlawanan sengit dari masyarakat setempat, terutama yang dipimpin oleh Tuanku Nan Garang di Lubuk Batingkok. Dalam situasi genting ini, Sutan Chedoh dari Nagari Koto Nan Ompek memilih untuk berpihak pada Belanda.
Keputusan Sutan Chedoh ini diduga didasari oleh pertimbangan pragmatis. Ia mungkin melihat bahwa perlawanan terhadap kekuatan militer Belanda yang lebih besar akan sia-sia dan hanya akan membawa kehancuran bagi masyarakatnya. Dengan membantu Belanda, ia mungkin berharap dapat melindungi Payakumbuh dari pembakaran dan kehancuran seperti yang terjadi di daerah lain. Bantuan yang diberikan Sutan Chedoh kepada Belanda ternyata membuahkan hasil. Ia diangkat menjadi Regent (kepala wilayah administratif) untuk wilayah Payakumbuh, dengan kedudukan di Koto Nan Ompek. Jabatan ini memberinya kekuasaan dan pengaruh yang besar dalam pemerintahan kolonial.
Tindakan Sutan Chedoh tentu saja menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat Minangkabau. Keputusannya untuk bekerja sama dengan penjajah dianggap sebagai pengkhianatan oleh sebagian orang. Namun, bagi sebagian lainnya, ia mungkin dianggap sebagai pemimpin yang realistis yang berusaha melindungi rakyatnya dalam situasi sulit. Terlepas dari kontroversi tersebut, peran Sutan Chedoh memiliki dampak yang signifikan bagi Payakumbuh. Selama masa jabatannya sebagai Regent, ia turut serta dalam mengatur dan mengelola wilayah Payakumbuh dalam sistem pemerintahan kolonial Belanda. Jabatan Regen yang di emban oleh Sutan Chedoh di hapus pada tahun 1879.
Salah satu peninggalan penting dari masa Sutan Chedoh adalah Masjid Gadang Koto Nan Ompek. Masjid ini diyakini dibangun pada masa pemerintahannya dan menjadi salah satu masjid tertua di Payakumbuh. Masjid ini menjadi bukti sejarah penting mengenai peranan Sutan Chedoh pada masa itu. Sutan Chedoh adalah figur kompleks dalam sejarah Payakumbuh. Tindakannya yang kontroversial mencerminkan dilema yang dihadapi oleh banyak pemimpin lokal pada masa kolonial Belanda. Meskipun keputusannya untuk bekerja sama dengan Belanda menuai kritik, perannya sebagai Regent memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan Payakumbuh. Warisan dan peninggalannya, seperti Masjid Gadang Koto Nan Ompek, tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya daerah tersebut.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh