Rusad Datuk Perpatih Baringek
Rusad Datuk Perpatih Baringek seorang birokrat di zaman Hindia Belanda. Karirnya dimulai menjadi guru di Sekolah Adabiah Padang. Selanjutnya memasuki dunia birokraksi dengan menjadi demang (kepala distrik) dan asisten demang di beberapa tempat seperti Bangkinang, Buo, Lubuk Sikaping, Sawahlunto, dan Padang. Rusad lahir 1893 di Nagari Koto Nan Gadang Payakumbuh dan meninggal dunia 1978. Dan sejak 25 November 1925, Rusyad menjabat sebagai Demang Sawahlunto. Ketika terjadi Pemberontakan Silungkang pada tahun baru 1926/1927, Rusyad menangkap tokoh-tokoh itu dan membawanya ke Digul, Papua. Termasuk saudara kandungnya yang bernama Ahmad dari Bodi Payolinyam, Koto Nan Godang, Payakumbuh. Setelah peristiwa itu, pemerintah Hindia Belanda mengangkat Rusyad sebagai Wedana Silungkang.
Karir Rusyad sebagai pejabat Hindia Belanda penuh kontroversi bagi para pendukung dan lawan politiknya. Rusyad pernah memimpin Dinas Intelijen Politik (Politieke Inlichtingen Dienst, PID) Sumatera Barat sejak 1927 hingga 1938. Rusad juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Minangkabau Raad, semacam dewan penasihat yang dibentuk pada 1938 oleh pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat. Setelah kemerdekaan Indonesia, Rusyad menjabat sebagai Residen Sumatera Barat dari 15 November 1945 sampai 14 Maret 1946 menggantikan Mohammad Syafie (pendiri INS Kayu Tanam) dan setelahnya Rusyad digantikan oleh Mohammad Rasjid hingga sampai masa agresi militer kedua Belanda tahun 1948/1949. Kolonel (Tituler) Rusad Datuk Perpatih Baringek atau yang lebih dikenal sebagai Wedana Rusad, adalah sosok yang kompleks dan menarik dalam sejarah Sumatera Barat. Lahir pada tahun 1893 suku Bodi di Koto Nan Gadang Payakumbuh dan meninggal pada tahun 1978, ia hidup dalam masa peralihan yang penuh gejolak, dari era kolonial Hindia Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia. Kariernya yang panjang dan beragam mencerminkan dinamika zaman tersebut.
Rusad memulai kariernya sebagai guru di Adabiah Padang, sebelum memasuki birokrasi pemerintah kolonial. Ia berhasil menaiki jenjang karier, menjadi demang di beberapa daerah, dan akhirnya memimpin Dinas Intelijen Politik (PID) Sumatera Barat. Posisi ini menunjukkan kepercayaan pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadapnya, serta kemampuan administratif dan intelijennya. Namun, kariernya di masa kolonial juga diwarnai kontroversi. Penumpasan pemberontakan komunis di Silungkang pada tahun 1927, di mana ia berperan penting, meninggalkan bekas luka dalam ingatan masyarakat. Tindakan represif yang dilakukannya terhadap para pemberontak, termasuk Abdul Muluk Nasution, membuatnya diingat sebagai sosok yang "kejam" oleh sebagian orang. Terlepas dari kontroversi tersebut, Rusad diakui sebagai ahli adat Minangkabau yang mumpuni. Pengangkatannya sebagai Sekretaris Minangkabau Raad pada tahun 1938 menunjukkan pengakuan atas pengetahuannya tentang adat istiadat.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Rusad memainkan peran penting dalam pemerintahan di Sumatera Barat. Ia menjabat sebagai Residen Sumatera Barat, posisi yang menunjukkan pengakuan atas pengalaman administratifnya. Namun, pengangkatannya sempat menimbulkan kontroversi karena latar belakangnya sebagai mantan pejabat kolonial Hindia Belanda. Sebagai residen, Rusad berusaha menata pemerintahan dan melakukan perombakan pamong praja. Ia berpendapat bahwa pengalaman pejabat lama masih dibutuhkan meskipun generasi muda memiliki pendidikan politik yang lebih baik. Pendirian ini membawanya pada konflik dengan tokoh-tokoh nasionalis yang menginginkan perubahan total.
Jabatan Rusad sebagai residen berakhir singkat, di tengah tekanan dari tokoh-tokoh nasionalis dan masyarakat. Ia kemudian dikaitkan dengan rencana pendirian negara boneka Belanda di Sumatera Barat, meskipun ide ini tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat Minangkabau yang memiliki kesadaran politik yang kuat. Setelah pensiun dari birokrat, Rusad lebih banyak mencurahkan waktunya di bidang pendidikan. Ia juga tercatat pernah menjadi Komisariat Fakultas Hukum Universitas Andalas. Dan di satu sisi, ia adalah birokrat yang cakap dan ahli adat yang dihormati. Di sisi lain, ia juga dikritik karena perannya dalam penumpasan pemberontakan komunis dan keterlibatannya dalam rencana pendirian negara boneka. Keluarganya juga mencatat sejarah yang luar biasa, putri sulungnya, Laili Roesad, menjadi duta besar wanita pertama Indonesia. Kehidupan Rusad mencerminkan kompleksitas masa peralihan di Indonesia, di mana tokoh-tokoh dengan latar belakang beragam memainkan peran penting dalam membentuk sejarah bangsa.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh