BPBD Kota Payakumbuh Gelar Kegiatan Pengembangan Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) Tahun 2026


PAYAKUMBUH,  — Sebagai langkah strategis memperkuat ketangguhan daerah menghadapi potensi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Payakumbuh menggelar pelatihan kedaruratan intensif. Program bertajuk "Pengembangan Kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Payakumbuh Tahun 2026" ini membidik peningkatan sinkronisasi lapangan dan penguatan kompetensi taktis para relawan.  

Acara yang berlangsung di Ball Room Hotel Mangkuto Syariah, Kota Payakumbuh tersebut, dibuka secara resmi oleh Walikota Payakumbuh didampingi Kepala BPBD Kota Payakumbuh, Devitra, S.Sos, M.Si.  

Dalam sambutannya saat membuka acara, Walikota Payakumbuh menekankan pentingnya kecepatan bertindak yang didasari oleh ketepatan kalkulasi di lapangan.

"Urusan bencana adalah urusan kemanusiaan yang tidak bisa ditunda. Saat krisis terjadi, TRC adalah ujung tombak pemerintah yang pertama kali menyentuh masyarakat. Oleh karena itu, kapasitas kalian tidak boleh biasa-biasa saja. Melalui pelatihan ini, saya minta seluruh unsur—baik TRC, instansi teknis, maupun relawan—mampu meleburkan ego sektoral. Kita harus membangun sistem komando yang solid, responsif, dan berbasis pada pengetahuan mitigasi yang modern," ujar Walikota Payakumbuh.

Senada dengan hal tersebut, Kepala BPBD Kota Payakumbuh, Devitra, dalam laporannya menjelaskan bahwa tantangan penanggulangan bencana ke depan kian kompleks, sehingga membutuhkan standardisasi kemampuan yang merata di tingkat akar rumput.

"Pelatihan ini bukan sekadar rutinitas seremonial program kerja. Kami merancang kurikulum komprehensif 16 Jam Pelajaran yang memadukan teori regulasi dan praktik taktis di lapangan. Target kami jelas: menyamakan persepsi pemahaman rapid assessment dan teknik evakuasi, sehingga ketika status darurat ditetapkan, tim sudah tahu siapa berbuat apa secara presisi," kata Devitra.  

Demi menjaga efektivitas proses pembelajaran, edukasi kebencanaan ini dirancang dan dilaksanakan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung pada Senin dan Selasa (13–14 Juli 2026), yang kemudian disusul oleh gelombang kedua pada Rabu dan Kamis (15–16 Juli 2026). Sebanyak 30 peserta pada setiap gelombang—yang terdiri atas personel TRC, instansi terkait, dan perwakilan relawan lokal—mengikuti seluruh rangkaian pembekalan materi secara intensif. Secara umum, format pelatihan ini dibagi ke dalam dua fokus utama, yakni pendalaman teori dan simulasi lapangan.

Hari Pertama (Fokus Teori): Bertempat di ruang pertemuan, para peserta dibekali materi mengenai Manajemen Tanggap Darurat oleh Kalaksa BPBD. Penguatan kapasitas kemudian dilanjutkan dengan pemaparan metode Kaji Cepat (Rapid Assessment) oleh Ketua Yayasan Langkah Berkelanjutan Indonesia (LIB), penanganan kegawatdaruratan medis oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Paliko, serta materi SAR Dasar oleh Instruktur Basarnas.

Hari Kedua (Praktik Lapangan): Bertempat di area terbuka Hotel Mangkuto Syariah, seluruh peserta diwajibkan untuk mensimulasikan berbagai skenario penyelamatan korban bencana. Dalam sesi ini, mereka mempraktikkan langsung pembagian peran evakuasi medis serta teknik pencarian dasar, hingga diakhiri dengan proses After Action Review (AAR) bersama Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD.

Melalui pendekatan pelatihan yang terukur ini, pemerintah daerah berharap kesiapsiagaan kota dalam memitigasi dampak bencana dapat berjalan lebih optimal. Langkah ini juga diharapkan mampu meminimalkan risiko korban jiwa sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabencana di lapangan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url