BPBD Payakumbuh Berikan Simulasi Kesiapsiagaan di SMAN 5 Boarding School
PAYAKUMBUH, — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Payakumbuh, memperluas cakupan edukasi kebencanaan ke sektor pendidikan. Langkah ini diwujudkan lewat simulasi dan sosialisasi mitigasi yang menyasar ratusan siswa baru dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 5 Payakumbuh Boarding School.
Kelas kebencanaan yang ditujukan bagi siswa kelas X ini berlangsung di Aula SMAN 5 Payakumbuh Boarding School, Kamis (16/7/2026), mulai pukul 09.15 hingga 11.15 WIB. Langkah adaptif ini diambil sebagai bagian dari komitmen bersama mewujudkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), sebagaimana diamanatkan dalam Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019.
Hadir sebagai narasumber utama, Kepala BPBD Kota Payakumbuh Devitra, dengan didampingi oleh Irwan. Dalam pemaparannya, Devitra memberikan pembekalan intensif mengenai materi "Kesiapsiagaan Bencana & Climate Change" (Perubahan Iklim). Para siswa baru tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga simulasi langkah taktis penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi, teknik evakuasi mandiri, hingga pengenalan risiko di lingkungan sekolah.
"Kami ingin para siswa memiliki pengetahuan penanganan dini sekaligus kesiapan mental yang matang. Melalui penerapan simulasi SPAB ini, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar yang nyaman secara akademis, tetapi juga aman, tanggap, dan tangguh dalam menghadapi potensi ancaman bencana yang bisa sewaktu-waktu terjadi," ujar Devitra.
Kepala SMAN 5 Payakumbuh Erwin Satriadi menegaskan, pembekalan ini krusial untuk membangun kemandirian siswa baru yang kini mulai hidup jauh dari orangtua. Karakter tangguh dan sigap dinilai harus dibentuk sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di lingkungan sekolah.
"Sebagai sekolah dengan sistem berasrama, tanggung jawab kami terhadap keselamatan siswa berlipat ganda. Kolaborasi bersama BPBD ini sangat penting agar anak-anak kami memiliki kesiapsiagaan fisik dan mental yang kuat. Kami ingin memastikan mereka tahu persis apa yang harus dilakukan secara mandiri jika situasi darurat terjadi di lingkungan asrama maupun sekolah," kata Erwin.
Melalui sinergi lintas sektor ini, Pemkot Payakumbuh berharap budaya sadar bencana dapat mengakar kuat di ekosistem sekolah. Dengan demikian, penguatan kapasitas resiliensi komunitas sekolah dapat menekan potensi risiko dan kerugian secara signifikan di masa depan.
