Memutus Rantai Narkoba dengan Menyembuhkan Trauma dan Membuka Ruang Aman


PAYAKUMBUH,  — Pendekatan dalam penanganan dan pencegahan penyalahgunaan narkotika di Kota Payakumbuh dinilai perlu bergeser dari sekadar sudut pandang hukum dan moralitas menuju pemulihan trauma serta pemenuhan ruang aman bagi para korban.

Hal tersebut mengemuka dalam sesi diskusi Sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yang diselenggarakan oleh Kantor Kesbangpol Kota Payakumbuh di Aula Lantai 3 Gedung Perpustakaan Umum Daerah Kota Payakumbuh. Dalam sesi tersebut, pegiat sosial Adal Bonai sebagai peserta acara tersebut bahwa memberikan perspektif mendalam mengenai akar masalah mengapa seseorang terjerumus ke dalam lingkaran setan narkotika. Menurutnya, masyarakat harus mulai mengubah paradigma dan stigma negatif terhadap para pengguna.

"Kenapa orang memakai narkoba? Bukan karena mereka lemah. Bukan juga karena rusak moralnya. Di balik setiap kecanduan, ada luka yang tidak pernah punya tempat untuk pulang," ujar Adal di hadapan puluhan pengurus Karang Taruna se-Kota Payakumbuh.  

Adal menjelaskan bahwa sebagian besar kasus kecanduan berakar dari trauma masa kecil yang tidak terselesaikan, seperti diabaikan, disakiti, atau tidak pernah benar-benar didengar oleh lingkungan terdekatnya. Rasa sakit psikologis yang mendalam tersebut memicu seseorang untuk mencari jalan keluar secara instan.

"Narkoba akhirnya menjadi cara tercepat untuk meredakan rasa sakit itu. Untuk sesaat, zat tersebut memberikan apa yang seharusnya diberikan oleh cinta dan rasa aman, meskipun setelahnya justru meninggalkan luka yang jauh lebih dalam. Jadi, pertanyaan yang tepat bagi kita semua bukan 'kenapa dia jadi pecandu?', melainkan 'sejak kapan dia berhenti merasa aman?'," tegasnya.

Selain membedah akar psikologis, Adal Bonai juga membagikan kiat praktis mengenai proses pemulihan yang dapat diinisiasi dari lingkungan rumah. Langkah pertama yang krusial adalah fase putus zat yang kemudian dilanjutkan dengan detoksifikasi melalui perubahan pola hidup secara total.

"Saya pribadi menekankan pentingnya menggunakan pola makan nabati-nabatian, olahraga, dan tidur yang teratur. Langkah ini bertujuan menghidupkan kembali sistem tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri. Intervensi nutrisi yang tepat akan sangat membantu menyeimbangkan kembali sistem kerja otak yang sempat rusak akibat ketergantungan zat," tambahnya.

Di akhir penyampaiannya, Adal mengajak seluruh elemen pemuda Karang Taruna dan pemerintah untuk bersama-sama membuka ruang aman yang inklusif sebagai langkah pencegahan. Ruang aman ini diharapkan tidak menghakimi korban, melainkan merangkul berbagai lini profesional secara terintegrasi, mulai dari psikolog, dokter, tokoh masyarakat, hingga dukungan regulasi dari pihak pemerintah. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url