Dokter Gerilya dari Suliki: Biografi Prof. dr. H. Achmad Darwis Dt. Batu Bosa
Judul Buku: Dokter Gerilya dari Suliki: Biografi Prof. dr. H. Achmad Darwis Dt. Batu Bosa
Penulis: Dedi Kurniawan
Penyunting: Feni Efendi
Penata Letak: Feni Efendi
Desain Sampul: Feni Efendi
Diterbitkan oleh:
Penerbit PAJACOMBO di bawah lini PT. PAJACOMBO TANAH PAYAU
Tolang, Jorong Koto Tangah, Nagari Lubuak Batingkok, Kec. Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 26271
Email: pajacombo@gmail.com
Website: www.pajacombo.com
Hp/WA: 081377856115
Cetakan Pertama, September 2026
viii + 63 hlm: 14,8 x 21 cm
Front Palatino, 1,15 Spasi, Size 11
SINOPSIS
Buku biografi ini mengurai secara riil dan runtut rekam jejak pengabdian Prof. dr. H. Achmad Darwis Dt. Batu Bosa, seorang tokoh pelopor medis gerilya yang mendedikasikan hidupnya demi keselamatan kemanusiaan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjalanan profesionalnya dimulai sejak lulus dari Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya pada tahun 1929, menjadi asisten dosen, hingga melakukan riset kusta berskala internasional di Lamongan pada tahun 1936. Kontribusinya di dunia kedokteran diuji sepenuhnya ketika beliau kembali ke tanah kelahirannya, Ranah Minang, untuk mengemban tugas dinas medis yang berisiko tinggi menembus medan terjal perbukitan.
Puncaknya di Kecamatan Suliki selama masa krisis Agresi Militer Belanda II (1948–1949). Setelah berhasil meloloskan diri dari penahanan tentara Belanda di Solok, dr. H. Achmad Darwis mempelopori berdirinya Rumah Sakit Front Padang Loweh yang menempati rumah tinggal milik Bapak Ginin dan Ibu Ani. Di tengah kelangkaan obat-obatan esensial dan blokade total musuh, benteng medis darurat ini berhasil merawat para pejuang gerilya Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) serta personel elite Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang menderita luka tembak dan tusukan bayonet. Keberlangsungan operasional rumah sakit front ini berjalan secara logis berkat sistem pertahanan TNI pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara, kenekatan penyelundupan obat oleh Chatib, serta pasokan konsumsi berupa nasi karambia yang dikelola oleh solidaritas sosiologis masyarakat sipil tingkat basis.
Ditulis secara objektif oleh Dedi Kurniawan, sejarah lokal ini telah diteliti, disetujui, serta disahkan secara resmi pada tahun 2013 oleh Wali Nagari Suliki saat itu, Bapak H. Basri, dan Camat Suliki, Bapak Harman, bersama para saksi sejarah yang masih hidup. Buku ini hadir sebagai monumen literasi yang valid untuk menjelaskan dasar hukum mengapa nama besar sang dokter pejuang dan Guru Besar Universitas Sumatera Utara ini diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Achmad Darwis di Suliki. Sebuah bacaan wajib mengenai esensi pengorbanan ilmu pengetahuan demi tegaknya harga diri sebuah bangsa.