Sarantak Gantuang: Kisah Seorang Pemuda yang Cintanya Tersimpul Mati Pada Tanah Kelahirannya

 


Judul Buku: Sarantak Gantuang: Kisah Seorang Pemuda yang Cintanya Tersimpul Mati Pada Tanah Kelahirannya

Penulis: Nova

Penata Letak: Feni Efendi

Desain Sampul: Feni Efendi

               

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit PAJACOMBO di bawah lini PT. Pajacombo Tanah Payau

Jl. Simpang Politani – Gurun. Tolang, Jorong Koto Tongah, Nagari Lubuak Batingkok,

Kec. Harau, Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 26271

HP/WA: 082384852758

Email: pajacombo@gmail.com

Website: www.pajacombo.com 

 

 

Cetakan Pertama, September 2026

x + 259 hlm: 13 x19 cm

Font Garamond, 1,15 Spasi, Size 10,5

 

SINOPSIS

Kisah bermula dari kepulangan Vasco, seorang peneliti muda yang membawa misi besar untuk mendokumentasikan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Ranah Minang. Di awal perjalanannya, Vasco dihadapkan pada kenyataan pahit kebudayaan yang ia cintai sedang berada di ambang kepunahan. Ia menyaksikan sunyinya pelataran surau karena anak-anak terbelenggu gawai, serta memudarnya dialek Minangkabau yang santun, berganti dengan bahasa tanpa kiasan. Vasco menelusuri jejak perjuangan tokoh perempuan seperti Rahma El Yunusiyah, Siti Manggopoh, dan Rasuna Said.

Ia menggali filosofi di balik Baju Kurung Basiba dan keanggunan Lilik (kerudung), sembari meratapi nasib penenun di Pandai Sikek dan di Balai Cacang Koto Nan Gadang yang kian langka karena generasi muda lebih memilih pekerjaan instan di perkantoran dan kafe demi mengejar gaya hidup modern.

Perjalanan Vasco berlanjut ke daerah yang kental dengan nuansa mistis dan filosofis. Ia menyaksikan kekuatan penyembuhan alami melalui sitawa sidingin dan kunyit, serta aroma kumayan (kemenyan) yang mengusir entitas gaib. Di sisi lain, ia menyelami kedalaman estetika silek lanyah, sebuah permainan anak nagari tentang bela diri di atas lumpur yang mengajarkan keseimbangan hidup.Vasco juga mencatat kepedihan di meja makan, di mana tata krama makan yang sunyi tidak bacapak (berbunyi) dan berhenti sebelum kenyang mulai dilupakan. Ia mendapati kisah-kisah pilu tentang penantian seorang Mandeh di janjang Rumah Gadang dan nyanyian bambu di Bukit Sambuang sebagai simbol kesetiaan yang tak lekang oleh waktu. Menyadari bahwa budaya tidak bisa hanya disimpan di museum saja, Vasco melakukan aksi nyata.

Ia menghidupkan kembali 25 Permainan Anak Nagari, mulai dari dentuman badia batuang hingga ketangkasan engrang dan tangkelek (bakiak), untuk menarik anak-anak keluar dari jerat teknologi. Ia juga menginisiasi kembali kegiatan kaba (kabar) di halaman kantor polisi pada malam Minggu, sebuah upaya untuk menghidupkan kembali tradisi lisan yang sempat pudar. Vasco percaya bahwa teknologi seharusnya menjadi pahat untuk mengukir kembali kebudayaan, bukan debu yang menimbunnya.

Narasi ditutup dengan pemandangan fajar di tahun 2020. Usaha Vasco dan masyarakat nagari mulai membuahkan hasil. Terjadi arus balik rantau di mana para intelektual dan anak nagari muda pulang ke kampung halaman untuk memadukan modernitas dengan tradisi.

Pohon Budaya Minangkabau yang tadinya meranggas, kini kembali berpucuk hijau. Anak-anak kembali bermain di lapangan, tenun kembali berdetak di rumah-rumah, dan bahasa pepatah-petitih kembali menjadi kompas moral di lapau-lapau (kedai). Vasco berhasil membuktikan bahwa dengan akar yang menghujam kuat pada adat basandi syarak, pucuk kebudayaan Minangkabau mampu menyentuh langit masa depan tanpa harus kehilangan jati dirinya. Sebagai seorang peneliti muda yang tumbuh di perantauan. Vasco kembali ke tanah leluhurnya bukan sekadar untuk pulang, melainkan untuk sebuah misi besar menyelamatkan zuq (ruh) Minangkabau yang mulai memudar. Di tengah gempuran modernisasi, Vasco mendapati bahwa kekayaan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah kini hanya menjadi pajangan di museum dan ingatan para tetua. Perjalanannya membawanya menyusuri surau-surau tua untuk mencari naskah kuno yang mulai lapuk, hingga turun ke sawah berlumpur demi menyaksikan silek lanyah.

Namun, tantangan terbesarnya bukanlah jarak atau waktu, melainkan skeptisisme generasinya sendiri dan hilangnya pengetahuan tradisional. Dengan membawa catatan riset dan semangat yang membara, Vasco berusaha menghidupkan kembali sepuluh cahaya objek pemajuan kebudayaan mulai dari sastra lisan kaba yang tak lagi terdengar, hingga teknologi tenun yang hampir ditinggalkan.

Serta rahasia dua surat tentang Ulama Dunia Syekh Mato Aie dan Syekh Ali Imran Hasan. Sebuah kisah tentang seorang pemuda yang berdiri di persimpangan zaman, berjuang memastikan bahwa langkah Kakinya tidak hanya meninggalkan jejak di tanah, tetapi juga menghidupkan kembali denyut nadi kebudayaan yang hampir hilang di Ranah Minang. Selamat membaca!

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url