Kevin Diks: Dari Champions League ke Timnas Garuda dan Perjalanan Panjang Menemukan Rumah


Ada pemain yang butuh bertahun-tahun mengembara dari satu liga ke liga lain sebelum akhirnya menemukan tempat bermain yang stabil. Tapi ada juga yang, setelah mengembara sedemikian jauh—dari akademi Belanda, ke Serie A Italia, hingga elite Eropa lewat Liga Champions—justru menemukan "rumah" itu di sebuah negeri yang belum pernah ia injak sebelumnya: Indonesia. Itulah kisah Kevin Diks Bakarbessy.

Bocah Apeldoorn yang Diincar Sejak Usia Sembilan

Lahir 6 Oktober 1996 di Apeldoorn, Belanda, jejak sepak bola Diks dimulai dari klub-klub kecil kota kelahirannya, VIOS Vaassen dan AGOVV Apeldoorn, sebelum akhirnya direkrut akademi Vitesse pada 2005 saat usianya baru sembilan tahun. Sembilan tahun kemudian, tepatnya musim panas 2014, ia mendapat kesempatan langka: dipanggil ke skuad utama untuk laga pramusim, bahkan sempat merasakan tampil melawan raksasa Inggris, Chelsea, meski berakhir kalah 1–3.

Kesempatan sesungguhnya datang lebih cepat dari dugaan. Agustus 2014, berkat cedera yang menimpa bek pilihan utama Wallace, Diks mendapat kepercayaan melakoni debut tim utama sekaligus debut Eredivisie-nya, meski laga tandang itu berakhir kekalahan 1–2 dari PEC Zwolle. Penampilannya cukup meyakinkan hingga awal 2015 kontraknya diperpanjang hingga 2018—tanda bahwa Vitesse melihat masa depan panjang pada bek muda ini.

Petualangan ke Italia dan Nomor Punggung Penuh Makna

Juli 2016 menjadi titik balik besar pertama: Diks hijrah ke Serie A bersama Fiorentina dengan kontrak lima tahun. Yang menarik, di klub barunya ia memilih mengenakan nomor punggung 34—sebuah penghormatan untuk Abdelhak Nouri, pemain muda yang kariernya berakhir tragis setelah mengalami kerusakan otak permanen akibat kolaps di lapangan. Pilihan nomor itu menunjukkan sisi lain dari Diks: seorang pesepakbola yang tak melupakan sesama pemain yang kariernya direnggut secara paksa.

Namun debut yang ditunggu-tunggu di Fiorentina baru terwujud tiga bulan kemudian, Oktober 2016, saat ia tampil sebagai pemain pengganti di menit ke-88 dalam kemenangan tandang 5–3 atas Cagliari. Sayangnya, masa-masa di Italia tak berjalan mulus. Awal 2017, ia dipinjamkan kembali ke Vitesse untuk sisa musim setelah gagal menembus rotasi utama Fiorentina.

Angkat Trofi Setelah 125 Tahun Penantian

Kepulangannya ke Vitesse justru membawa berkah tak terduga. Pada 30 April 2017, Diks masuk sebagai pemain pengganti saat Vitesse menaklukkan AZ Alkmaar 2–0 di final Piala KNVB—gelar juara pertama klub itu sepanjang 125 tahun sejarahnya, setelah tiga kali sebelumnya hanya berstatus runner-up. Sebuah momen bersejarah yang turut ia rasakan dari bangku cadangan menuju lapangan.

Musim berikutnya, Diks dipinjamkan ke Feyenoord dan kembali merasakan angkat trofi ketika klub itu menjuarai Piala KNVB 2017–18 dengan kemenangan telak 3–0 atas lawan yang sama, AZ Alkmaar. Setelah itu, jalur kariernya sempat singgah di Empoli lewat status pinjaman pada awal 2019, sebelum akhirnya berlabuh di Denmark.

Menemukan Panggung Eropa di Kopenhagen

September 2019, Diks dipinjamkan ke AGF di Superliga Denmark, sebuah masa yang diperpanjang setahun kemudian. Pengalaman itu membuka jalan bagi langkah permanen: Juli 2021, ia menandatangani kontrak empat tahun dengan FC Copenhagen. Di sinilah karier Diks benar-benar mekar.

Bersama Copenhagen, ia mengangkat trofi juara liga Denmark, membawa timnya menembus babak 16 besar edisi perdana Liga Konferensi Eropa UEFA sebelum tersingkir oleh PSV Eindhoven, dan pada 2023 kembali meraih gelar ganda liga dan Piala Denmark. Pencapaian itu mengantarkan Copenhagen ke babak grup Liga Champions, berhadapan dengan raksasa-raksasa seperti Borussia Dortmund, Sevilla, dan Manchester City—klub yang pada akhirnya menjuarai kompetisi musim itu. Musim berikutnya, Copenhagen bahkan melangkah lebih jauh ke babak 16 besar Liga Champions setelah menembus fase grup bersama Bayern München, Galatasaray, dan Manchester United, termasuk kemenangan kandang dramatis 4–3 atas Manchester United. Diks pun menjelma menjadi pilar pertahanan inti klub, mampu bermain sebagai bek kiri maupun bek tengah.

Panggilan yang Tak Pernah Terwujud di Belanda

Di level internasional junior, Diks sempat mengukir jejak panjang bersama timnas muda Belanda—dari debutnya bersama Belanda U-19 pada Oktober 2014 dalam kemenangan telak 7–0 atas Andorra U-19, hingga tampil di level U-20 dan U-21. Tahun 2018, ia bahkan sempat dipanggil mengikuti kamp pelatihan timnas senior Belanda. Namun panggilan itu tak pernah berbuah penampilan resmi—sebuah pintu yang tertutup rapat meski sempat terbuka sedikit.

Garis Maluku yang Membawanya Pulang

Di balik nama belakang "Bakarbessy" yang melekat pada identitasnya, tersimpan jawaban dari mana asal muasal keterikatan Diks dengan Indonesia: ibunya berasal dari Maluku. Garis keturunan itulah yang pada Oktober 2024 membawanya pada keputusan besar—memilih mewakili Indonesia di kancah internasional, meninggalkan kemungkinan status di timnas Belanda yang sebelumnya sempat terbuka.

Debutnya bersama Timnas Indonesia terjadi tak lama setelah itu, 15 November 2024, dalam laga kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 melawan Jepang. Namun laga tersebut berjalan pahit: Diks harus ditarik keluar akibat cedera setelah baru bermain 41 menit, sementara Indonesia akhirnya takluk 4–0. Sebuah debut yang datang dengan rasa manis sekaligus getir sekaligus.

Musim Baru di Bundesliga

Kisah Kevin Diks belum berhenti di titik itu. Mulai musim 2025–2026, ia akan mengenakan seragam klub Bundesliga, Borussia Mönchengladbach—langkah terbaru dalam perjalanan panjangnya menembus liga-liga top Eropa, dari Belanda, Italia, hingga Jerman.

Perjalanan Kevin Diks adalah potret seorang pesepakbola yang menempuh jalur panjang dan berliku sebelum menemukan jawaban atas pertanyaan tentang identitas dan kebangsaan. Ia mungkin lahir dan besar di Apeldoorn, mengangkat trofi di Belanda dan Denmark, serta merasakan panasnya lampu sorot Liga Champions—namun pada akhirnya, garis darah dari Maluku yang mengalir dalam dirinya menuntunnya kembali, mengenakan lambang Garuda di dadanya.


Ditulis berdasarkan data dari Wikipedia Bahasa Indonesia dan sumber-sumber pemberitaan terkait.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url