Iljas Hamzah
Iljas Hamzah, seorang diplomat ulung kelahiran Payakumbuh, telah menorehkan tinta emas dalam sejarah diplomasi Indonesia. Lahir pada 11 November 1918, putra dari Datuk Indomaradjo Hamzah ini mengabdikan dirinya untuk negara, khususnya dalam menjalin hubungan internasional. Kiprahnya mencapai puncak ketika ia dipercaya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Hungaria pada periode 1974-1977. Perjalanan karier Iljas Hamzah dimulai pada tahun 1949 di Departemen Luar Negeri. Dengan kecerdasan dan dedikasinya, ia menapaki tangga karier diplomasi dengan cepat. Pada tahun 1950, ia ditugaskan sebagai Sekretaris II di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, dan setahun kemudian, ia naik jabatan menjadi Wakil Konsul Jenderal di kota yang sama.
Pengalaman internasionalnya semakin luas ketika ia ditugaskan sebagai Sekretaris I di KBRI Canberra, Australia, pada tahun 1952. Setelah dua tahun bertugas di Negeri Kanguru, ia kembali ke Jakarta dan berkontribusi di Direktorat Asia-Pasifik. Pada tahun 1957, ia kembali bertugas di luar negeri sebagai konselor di Paris, Prancis. Pada tahun 1958, Iljas Hamzah kembali ke tanah air dan dipercaya untuk mengepalai Biro Pampasan. Kariernya terus menanjak, dan pada periode 1966-1969, ia memimpin Direktorat Eropa Timur, yang kemudian dilanjutkan dengan memimpin Direktorat Eropa. Sejak tahun 1969, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Politik, sebuah posisi strategis yang menunjukkan kepercayaan besar negara kepadanya.
Puncak karier Iljas Hamzah adalah ketika ia ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia untuk Hungaria. Di sana, ia berperan penting dalam memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara pada masa Perang Dingin. Setelah menyelesaikan tugasnya di Hungaria pada tahun 1977, ia kembali ke Jakarta dan terus memberikan kontribusi bagi diplomasi Indonesia. Iljas Hamzah menghembuskan napas terakhirnya pada 9 Februari 1996 di Jakarta, meninggalkan warisan berharga bagi dunia diplomasi Indonesia. Ia adalah sosok diplomat yang berdedikasi, cerdas, dan memiliki visi yang luas. Kontribusinya dalam membangun hubungan internasional Indonesia patut dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh