Angel Cry
Di tengah arus globalisasi dan homogenisasi budaya yang kian deras, muncul sosok Angel Cry, seorang komedian media sosial yang lahir di Payakumbuh pada 10 Juli 1992 dengan nama Gustina. Kiprahnya di dunia maya sejak tahun 2019 bukan hanya menghibur, namun juga menjadi oase yang menyegarkan dengan penegasan identitas lokal yang kuat. Berasal dari Balai Cacang, Nagari Koto Nan Gadang, Payakumbuh, Angel Cry tumbuh dalam kesederhanaan bersama almarhum ayahnya, Zulkifli, dan ibunya, Enilda. Kini, ia membangun bahtera rumah tangga bersama Megi. Namun, yang paling mencolok dari sosok Angel Cry adalah bagaimana ia dengan bangga dan konsisten menggunakan dialek nagari asalnya, Koto Nan Gadang, dalam setiap video komedinya.
Fenomena Angel Cry ini menjadi menarik di tengah kekhawatiran akan melemahnya identitas kultural di kalangan generasi muda Indonesia. Alih-alih mengikuti tren penggunaan bahasa gaul atau bahasa Indonesia yang terpengaruh budaya populer, Angel Cry justru memilih untuk lantang berbahasa Koto Nan Gadang. Ia tidak hanya sekadar menggunakan bahasa tersebut, tetapi juga menjadikannya sebagai kekuatan utama dalam komedinya. Keberaniannya semakin terlihat dalam siaran langsungnya di pusat kota Payakumbuh, di mana ia tetap teguh menggunakan bahasa Koto Nan Gadang yang kental. Ini adalah demonstrasi kepercayaan diri yang luar biasa, terutama dalam konteks masyarakat Minangkabau yang secara umum mungkin lebih terbiasa dengan penggunaan bahasa Minang yang lebih umum atau bahkan bahasa Indonesia dalam ruang publik.
Lebih dari sekadar penggunaan bahasa, Angel Cry juga secara konsisten menghadirkan unsur budaya lokal dalam videonya, salah satunya adalah lomang. Kehadiran lomang bukan hanya sebagai properti semata, namun juga membawa makna mendalam, seperti dalam ungkapannya "godang jaso lomang" (lemang memiliki jasa yang besar terhadap dirinya). Ungkapan ini bisa diinterpretasikan sebagai pengakuan akan akar budaya dan tradisi yang telah membentuk dirinya. Hal ini menjadi semacam "pukulan telak" bagi sebagian orang yang mungkin merasa malu dengan identitas aslinya, terutama jika berasal dari kalangan menengah ke bawah, dan berusaha menyembunyikan jati diri mereka. Angel Cry justru sebaliknya, ia menjadikan kesederhanaan dan keaslian sebagai modal utama dalam berkarya.
Keberanian Angel Cry dalam mempertahankan dan mempromosikan identitas lokalnya melalui media sosial memberikan inspirasi tersendiri. Di era digital yang serba cepat dan cenderung seragam, ia hadir sebagai representasi kekuatan budaya daerah. Ia membuktikan bahwa identitas lokal bukanlah sebuah hambatan, melainkan sebuah kekayaan yang dapat diangkat dan diapresiasi oleh khalayak yang lebih luas. Keberhasilannya menarik perhatian menunjukkan bahwa ada kerinduan akan konten yang otentik dan dekat dengan akar budaya. Selain aktif sebagai komedian di media sosial, Angel Cry juga melebarkan sayapnya dengan membuka usaha makanan tradisional, Lomang Uni Angel Cry, di Pasar Payakumbuh. Langkah ini semakin memperkuat citranya sebagai sosok yang tidak hanya bangga dengan identitas budayanya, tetapi juga aktif melestarikannya melalui berbagai cara.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh