Buya Nurul Huda

 

Luhak Limo Puluah telah banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang memberikan kontribusi nyata bagi perjalanan bangsa Indonesia. Salah satu putra terbaiknya adalah Buya Nurul Huda, seorang tokoh religius dan birokrat ulung yang lahir di Koto Panjang, Lampasi, Payakumbuh, pada 2 April 1930. Sosoknya dikenal sebagai perpaduan antara kedalaman ilmu agama dan kecakapan dalam tata kelola pemerintahan, menjadikannya figur yang dihormati baik di ranah lokal Minangkabau maupun di tingkat nasional. Pondasi intelektual Buya Nurul Huda bermula dari pendidikan pesantren yang sangat kuat. Beliau menimba ilmu di Pesantren PERTI Tabek Gadang, sebuah institusi pendidikan Islam ternama di Sumatera Barat. Di sana, beliau dibimbing langsung oleh ulama besar, Buya KH. Rusli Abdul Wahid. Pendidikan di pesantren ini tidak hanya membentuk karakter religiusnya, tetapi juga menanamkan semangat perjuangan dan pengabdian yang menjadi landasan utama bagi karier beliau di masa depan.

Dedikasi Buya Nurul Huda di sektor publik terlihat dari pengabdian panjangnya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam instansi tersebut, beliau dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Pengalaman birokrasinya ini memberikan beliau perspektif yang luas mengenai pentingnya sinergi antara nilai-nilai moral keagamaan dengan sistem pendidikan nasional demi kemajuan bangsa. Selain sebagai birokrat, Buya Nurul Huda adalah seorang organisatoris yang sangat aktif dalam pengembangan dakwah Islam. Beliau tercatat pernah menjadi pengurus di Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta berbagai organisasi Islam lainnya. Melalui wadah-wadah ini, beliau konsisten memperjuangkan aspirasi umat dan menyebarkan pesan-pesan Islam yang moderat namun teguh pada prinsip, sehingga pengaruhnya sangat dirasakan dalam kehidupan sosial keagamaan di Indonesia.

Karier politik dan kenegaraan beliau mencapai puncaknya saat dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia selama dua periode, yakni 1988–1993 dan 1993–1998. Pada periode yang sama, beliau juga mengabdi sebagai anggota MPR RI mewakili Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sebagai penasihat negara, Buya Nurul Huda memberikan sumbangsih pemikiran yang berharga bagi presiden dalam menentukan arah kebijakan negara, khususnya yang bersentuhan dengan isu-isu keagamaan dan sosial. Di dunia akademis, kontribusi Buya Nurul Huda sangatlah monumental. Beliau merupakan salah satu pendiri Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) pada tahun 1966 dan sempat menjabat sebagai Rektor di sana selama dua periode. Tak hanya itu, dedikasinya terhadap Al-Qur'an juga membawanya menjadi Rektor di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta. Peran ganda sebagai ulama dan akademisi ini membuktikan bahwa beliau adalah sosok yang sangat peduli terhadap kecerdasan spiritual dan intelektual generasi muda.

Setelah menjalani masa pengabdian yang panjang dan penuh warna, Buya Nurul Huda wafat pada tanggal 31 Juli 2003. Beliau dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta, meninggalkan warisan intelektual dan teladan moral bagi masyarakat Indonesia. Meskipun telah tiada, rekam jejak beliau sebagai putra asli Payakumbuh yang berhasil berkiprah di panggung nasional tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Luhak Limo Puluah untuk terus berprestasi bagi nusa dan bangsa.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url