Djufri Tanissan

 

Dunia seni rupa dan estetika media di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari nama Djufri Tanissan. Lahir di Payakumbuh pada 20 Desember 1937, putra Minangkabau ini membawa semangat ketelitian dan keuletan khas perantau dalam setiap garis rancangannya. Sosoknya yang bersahaja namun berwawasan luas menjadi jembatan antara seni murni dan kebutuhan industri media masa itu, menjadikannya salah satu pilar penting dalam sejarah artistik nasional. Secara kultural, Djufri merupakan representasi kuat dari identitas lokalnya. Beliau berasal dari suku Mandailiang, bagian dari kaum Dt. Tandiko Nan Panjang dari Nagori Koto Nan Godang, Payakumbuh. Akar budaya ini tidak hanya membentuk karakter pribadinya yang disiplin, tetapi juga kemungkinan besar memengaruhi kepekaan estetisnya terhadap bentuk dan komposisi, sebuah bekal berharga yang ia bawa ketika memutuskan untuk berkarier di Jakarta hingga akhir hayatnya pada 16 Mei 1994.

Jejak karier Djufri sangat terasa di dunia penerbitan, di mana ia dikenal sebagai ilustrator, penata artistik, sekaligus penata letak yang visioner. Ia adalah sosok di balik layar yang mempercantik wajah media-media bergengsi seperti Tempo, Ekspres, dan majalah sastra Horison. Ketajaman visualnya dalam mengatur tata letak dan memberikan ilustrasi yang bermakna membuat informasi yang disampaikan media tersebut tidak hanya informatif, tetapi juga memiliki nilai artistik tinggi bagi pembacanya.

Transisi Djufri dari dunia cetak ke dunia seluloid dimulai pada awal 1970-an, menandai babak baru dalam karier profesionalnya sebagai penata artistik film. Debutnya dimulai melalui film Hostess Anita (1971), sebuah langkah awal yang kemudian membawanya terlibat dalam lebih dari 30 judul film cerita. Kehadiran Djufri di lokasi syuting memberikan warna tersendiri, di mana ia mampu menerjemahkan visi sutradara ke dalam bentuk ruang, properti, dan suasana yang mendukung kekuatan cerita.

 Kualitas kerja Djufri di dunia film diakui secara luas oleh para kritikus dan sejawatnya di industri. Meskipun sejarah mencatat bahwa beliau belum sempat membawa pulang Piala Citra, pencapaiannya tetap sangat mengesankan dengan enam kali masuk dalam nominasi Penata Artistik Terbaik. Hal ini membuktikan bahwa standar estetika yang ia terapkan selalu berada pada level tertinggi dalam kompetisi perfilman nasional yang ketat. Nominasi-nominasi tersebut ia raih melalui film-film ikonik yang hingga kini masih menjadi bahan studi, seperti Bayang-bayang Kelabu (FFI 1980) dan Titian Serambut Dibelah Tujuh (FFI 1983). Selain itu, keterlibatannya dalam film biopik Kartini (1983) dan film bertema sejarah Budak Nafsu (1984) menunjukkan kemampuannya dalam melakukan riset mendalam untuk menghidupkan kembali suasana masa lalu melalui penataan artistik yang akurat dan dramatis.

Eksplorasi artistiknya terus berlanjut hingga akhir masa hidupnya, dengan nominasi tambahan lewat film Opera Jakarta (FFI 1986) dan Soerabaia '45 (FFI 1991). Salah satu karya internasional yang juga melibatkan sentuhan tangannya adalah film Oeroeg (1992), sebuah proyek kerja sama yang membuktikan bahwa kualitas artistik seorang putra Payakumbuh mampu bersaing dan bersinergi dalam standar produksi film luar negeri. Meskipun ia telah tiada, warisannya berupa tata letak majalah yang ikonik dan tata artistik film yang kuat tetap abadi. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai pejuang estetika yang mendedikasikan hidupnya untuk keindahan visual, sebuah inspirasi bagi generasi muda dari Nagori Koto Nan Godang dan seluruh Indonesia.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url