Drs. Muzahar Muchtar Dt. Siri Dirajo

 

Drs. Muzahar Muchtar Dt. Siri Dirajo dikenal sebagai salah satu putra terbaik Luak Limo Puluah yang menorehkan sejarah penting dalam birokrasi Sumatra Barat. Lahir di Ampang Gadang, Nagari VII Koto Talago, Kabupaten Lima Puluh Kota, beliau membawa identitas kultural yang kuat sebagai penyandang gelar adat dari Suku Koto. Akar budaya yang kental ini menjadi landasan karakter kepemimpinannya yang dikenal tegas namun tetap mengayomi masyarakat bawah. Sebelum mengabdikan diri di tanah kelahirannya, Muzahar Muchtar telah mengasah kemampuan manajerial dan kepemimpinannya sebagai Wali Kota Padang Panjang. Pengalaman memimpin kota berjuluk "Serambi Mekkah" tersebut menjadi modal berharga ketika beliau dipercaya menjabat sebagai Wali Kota Payakumbuh untuk periode 1982–1987. Kehadirannya di Payakumbuh disambut dengan harapan besar untuk membawa perubahan signifikan bagi kota yang sedang berkembang tersebut.

Latar belakang pendidikan Muzahar mencerminkan sosok yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Beliau menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Padang Jopang, berlanjut ke SMP Danguang-Danguang, dan SMA Negeri Bukittinggi. Semangat belajarnya kemudian membawa beliau merantau ke Jawa untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Malang. Di IIP, beliau merupakan rekan seangkatan dengan Soetan Oesman, yang merupakan Wali Kota Payakumbuh pertama, menunjukkan bahwa beliau tumbuh dalam lingkungan intelektual pemerintahan yang berkualitas.

Tantangan terbesar yang dihadapi Muzahar saat menjabat adalah kondisi pusat ekonomi kota yang luluh lantah. Pasar Payakumbuh mengalami musibah kebakaran hebat sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1979 dan kembali terulang pada tahun 1982. Kondisi ini membuat roda perekonomian masyarakat sempat tersendat dan memerlukan penanganan segera yang sistematis agar pedagang dapat kembali beraktivitas dengan layak. Sebagai langkah nyata, Muzahar Muchtar menginisiasi pembangunan kembali Pasar Payakumbuh secara besar-besaran yang berlangsung dari tahun 1983 hingga 1985. Proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya pemulihan martabat ekonomi kota. Ketegasan dan ketekunan beliau dalam mengawal proyek ini memastikan bahwa pasar kebanggaan warga Payakumbuh tersebut dapat berdiri megah dan fungsional dalam waktu yang relatif singkat.

Salah satu kebijakan yang paling dikenang dari masa kepemimpinannya adalah transparansi dalam pembagian kios pasar. Setelah pembangunan selesai, beliau memilih metode pengundian untuk menentukan penempatan pedagang guna menghindari praktik kecurangan atau pilih kasih. Langkah ini sangat diapresiasi oleh seluruh pedagang yang merasa diperlakukan secara adil. Kebijakan demokratis ini berhasil meredam potensi konflik dan menciptakan kepuasan kolektif di tengah masyarakat. Puncak dari keberhasilan pembangunan ini ditandai dengan peresmian pasar yang dilakukan langsung oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, Letjen (Purn) Suparjo Rustam. Kehadiran tokoh nasional dalam peresmian tersebut menegaskan keberhasilan Muzahar Muchtar dalam memimpin Payakumbuh. Hingga kini, dedikasi beliau dalam membangun infrastruktur dan menjaga integritas birokrasi tetap menjadi teladan yang membanggakan bagi masyarakat Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url