Ferry Irwandi
Ferry Irwandi, lahir di Jambi tahun 1991 adalah YouTuber di Indonesia. Ia amerupakan representasi dari intelektualitas kritis yang berani bersuara, juga seorang pendiri komunitas yang berorientasi pada kemajuan bangsa, dan seorang individu yang memegang teguh prinsip-prinsip stoikisme di tengah pusaran informasi digital. Lahir dari darah keluarga Minangkabau asal Barulak di Jambi dengan latar belakang pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan gelar magister dari Central Queensland University seolah menjadi fondasi paradoks bagi kiprahnya yang justru merambah dunia konten kreatif. Namun, justru di persimpangan antara logika akuntansi dan kebebasan berekspresi inilah Ferry menemukan panggungnya untuk mengartikulasikan gagasan-gagasan penting.
Keputusan Ferry untuk meninggalkan zona nyaman sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Keuangan demi mengejar panggilan sebagai konten kreator penuh waktu adalah manifestasi dari hasrat untuk berbagi dan memberdayakan. Sejak mengawali jejak digitalnya di YouTube pada tahun 2010, ia membangun sebuah ruang diskusi yang kaya akan topik, mulai dari dinamika politik yang kompleks, prinsip-prinsip keuangan yang esensial, kearifan stoikisme yang abadi, hingga analisis mendalam terhadap fenomena sosial yang aktual. Popularitasnya kian meroket pasca kemunculannya di podcast "Close The Door", mengantarkan gagasan-gagasannya kepada audiens yang lebih luas. Selain itu, langkah kolaboratif Ferry dalam mendirikan Malaka Project bersama figur-figur berpengaruh lainnya seperti Jerome Polin dan Coki Pardede menunjukkan visi yang lebih besar dari sekadar konten personal. Proyek ini adalah wujud nyata dari komitmennya terhadap peningkatan kualitas dan akses pendidikan di Indonesia, sebuah kontribusi konstruktif terhadap cita-cita Indonesia Emas 2045. Keterlibatannya dalam berbagai kolaborasi dengan kreator konten lain semakin memperkaya perspektif dan jangkauan diskursus yang ia bangun.
Salah satu aspek menarik dari perjalanan Ferry adalah transparansinya mengenai kemitraan profesionalnya dengan kanal "Close The Door". Penjelasannya yang lugas mengenai struktur kepemilikan yang setara, tanpa adanya ikatan editorial yang mengekang, menegaskan independensi dan integritas intelektualnya. Ia tidak tergiur oleh iming-iming gaji rutin atau modal produksi yang mengikat kebebasan berekspresi. Baginya, kemitraan sejati adalah ruang di mana perbedaan pandangan, bahkan kritik terhadap mitra sendiri, dapat diutarakan tanpa kompromi. Lebih jauh dari sekadar berbagi informasi, Ferry menjelma menjadi seorang aktivis digital yang vokal terhadap isu-isu etika dan transparansi. Tindakannya melaporkan promosi judi online oleh influencer adalah contoh konkret dari keberaniannya untuk menegakkan nilai-nilai moral di ruang publik digital. Ia juga tak gentar menyoroti praktik-praktik manipulatif seperti fake giveaway dan klaim penghasilan palsu, menunjukkan komitmennya terhadap kejujuran dan akuntabilitas. Di sisi lain, ketertarikannya pada stoikisme sejak tahun 2017 bukan hanya menjadi landasan filosofis pribadi, tetapi juga ia bagikan kepada audiensnya, menawarkan perspektif yang tenang dan bijaksana dalam menghadapi gejolak kehidupan modern.
Namun, sorotan paling tajam terhadap kiprah Ferry Irwandi tertuju pada kritiknya yang mendalam dan prinsipil terhadap perubahan Undang-Undang TNI. Baginya, isu ini melampaui sekadar perbedaan pendapat; ia berakar pada keyakinan ideologis yang fundamental mengenai batas yang jelas antara ranah militer dan sipil. Ia tidak mempersoalkan eksistensi dan fungsi militer dalam menjaga kedaulatan negara, justru mengakui tingginya kepercayaan publik terhadap institusi tersebut pasca reformasi. Akan tetapi, ia dengan tegas menolak keterlibatan militer dalam urusan sipil, melihatnya sebagai ancaman potensial terhadap tatanan demokrasi dan bertentangan dengan esensi pelatihan dan fungsi militer itu sendiri. Argumentasi Ferry bahwa militer dilatih untuk "mengeliminasi ancaman" dalam konteks perang, berbeda jauh dengan dunia sipil yang mengedepankan dialog dan kompromi, adalah sebuah pemaparan yang tajam dan relevan. Ia menekankan bahwa kepatuhan tanpa tanya yang menjadi fondasi struktur komando militer akan menjadi kontraproduktif dalam sistem sosial sipil yang pluralistik. Keberaniannya menyuarakan kekhawatiran ini, termasuk melalui unggahan di media sosial yang viral, menunjukkan komitmennya untuk menjaga kesehatan kehidupan bernegara. Dan konsekuensi dari sikap vokal Ferry tidaklah ringan. Tekanan sosial, peringatan dari kolega, hingga upaya pembunuhan karakter melalui framing di media sosial menjadi bagian dari realitas yang harus ia hadapi. Namun, keteguhan prinsipnya membuatnya tidak menyesali langkah yang telah diambil. Baginya, menjaga batas antara militer dan sipil adalah imperatif untuk mempertahankan demokrasi yang sehat.
Selain itu, kritik Ferry terhadap pemerintahan Presiden Prabowo pasca Pemilu juga menjadi bukti konsistensi sikapnya. Ia menyoroti adanya inkonsistensi antara janji Prabowo sebelum terpilih mengenai supremasi sipil dengan kebijakan dan situasi yang terjadi setelahnya. Meningkatnya keterlibatan militer dalam urusan sipil, mulai dari pengelolaan pangan hingga orkestrasi informasi digital, ia pandang sebagai ancaman nyata bagi demokrasi. Ia juga mengkritisi pendekatan pemerintah yang cenderung otoriter, termasuk penggunaan kekuatan militer dalam merespons demonstrasi sipil. Kekhawatirannya terhadap wacana operasi siber oleh TNI untuk menekan opini publik semakin memperkuat argumennya tentang pentingnya menjaga batas yang jelas antara militer dan sipil. Adapun sebagai seorang YouTuber, pendiri Malaka Project, penganut stoikisme, dan seorang warga negara yang peduli, Ferry Irwandi menjelma menjadi oase di tengah gurun informasi. Ia tidak hanya menyajikan konten yang informatif dan analitis, tetapi juga menunjukkan keberanian untuk berdiri tegak melawan arus ketika prinsip-prinsip demokrasi dan etika dipertaruhkan.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh