Fitri Noveri
Fitri Noveri merupakan sosok sutradara teater kontemporer yang membawa warna segar dalam khazanah seni pertunjukan di Sumatera Barat. Lahir pada 22 Agustus 1981 di Lubuak Batingkok, Kabupaten Lima Puluh Kota, ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai adat dan tradisi Minangkabau. Akar budaya ini nantinya menjadi fondasi kuat bagi karya-karya penyutradaraannya yang sering kali memadukan estetika modern dengan filosofi lokal yang mendalam. Ia putra dari pasangan Syahrul Fitri dan Erna, bersuku Kutianyia, di bawah naungan pasukuan Datuak Duko Sati atau Datuak Tinggi. Identitas kesukuan ini bukan sekadar label silsilah baginya, melainkan sebuah identitas kultural yang memberinya sudut pandang unik dalam membedah realitas sosial masyarakat melalui panggung teater.
Perjalanan akademis Fitri dimulai dari pendidikan dasar di SD 01 Nagari Lubuak Batingkok, kemudian berlanjut ke Tsanawiyah Talawi dan SMK Taman Siswa Payakumbuh. Ketertarikannya pada dunia seni semakin terasah hingga ia memutuskan untuk mendalami ilmu seni secara formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Di institusi inilah, ia menuntaskan pendidikan hingga jenjang pascasarjana, yang memperkuat landasan teoretisnya dalam menciptakan karya seni pertunjukan yang berbobot. Dalam kehidupan pribadinya, Fitri didampingi oleh seorang istri bernama Naniek. Kehadiran keluarga menjadi sumber inspirasi dan dukungan moral yang luar biasa bagi perjalanan kariernya yang penuh tantangan. Pasangan ini dikaruniai seorang putra yang diberi nama Garih Palito Kursani, sebuah nama yang sarat akan makna simbolis, mencerminkan harapan dan filosofi hidup yang mendalam sebagaimana karakter karya-karya ayahnya.
Sebagai seorang sutradara, Fitri Noveri dikenal karena ketelitiannya dalam menggarap naskah dan kemampuannya mengeksplorasi ruang. Ia tidak hanya memindahkan teks ke atas panggung, tetapi juga melakukan pembacaan ulang terhadap fenomena budaya yang ada di sekitarnya. Karya-karyanya sering kali menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, menjadikan teater sebagai media refleksi bagi masyarakat Sumatera Barat untuk melihat kembali jati diri mereka. Kontribusinya terhadap ekosistem seni di Sumatera Barat tidak perlu diragukan lagi. Melalui proses kreatif yang konsisten, ia telah membantu menghidupkan gairah berkesenian di kalangan generasi muda, khususnya di wilayah Payakumbuh dan Lima Puluh Kota.
Dedikasinya dalam menempuh jalur akademis hingga tingkat master di ISI Padang Panjang juga membuktikan bahwa baginya, praktik kesenian harus berjalan selaras dengan kedalaman intelektual. Dengan latar belakang pendidikan yang mumpuni dan pijakan adat yang kuat, ia terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan teater nasional. Sosoknya mengingatkan kita bahwa dari sebuah nagari bernama Lubuak Batingkok, dapat lahir pemikiran-pemikiran besar yang mampu menggetarkan panggung pertunjukan melalui kekuatan seni peran. Karya-karya lainnya terkumpul dalam bentuk bentuk buku yang berjudul Mekar (2025) dan Bayang Kaki Limo (2025).
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh