JOHN EDDI
Di tengah perbukitan hijau Luhak Limo Puluah, tepatnya di Katinggian, Kabupaten Lima Puluh Kota, berdiri sebuah imperium bisnis peter-nakan yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang putra daerah. John Eddi, pria kelahiran 18 Januari 1970, kini dikenal sebagai tokoh sukses di balik PT Radja Poultry Shop. Namun, kejayaannya saat ini dengan kepemilikan 500.000 ekor ayam petelur bukanlah hasil dari sebuah keberuntungan instan, melainkan buah dari keringat, air mata, dan visi yang tajam.
Lahir dari keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS), John Eddi tumbuh dengan menyadari bahwa status pekerjaan orangtuanya tidak selalu menjamin kesejahteraan ekonomi. Pengalaman masa kecil melihat kesulitan orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadi api pemantik bagi John untuk memilih jalur pengusaha. Meski ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang (1994), ia tidak membatasi diri pada bidang studinya. Baginya, ijazah adalah bukti pendidikan formal, namun keberanian berbisnis adalah panggilan jiwa.
Langkahnya dimulai dari keberanian merantau ke Jepang sebagai peserta magang manufaktur pada tahun 1996. Selama dua tahun di negeri matahari terbit, ia tidak hanya mengumpulkan modal finansial sebesar Rp 80 juta, tetapi juga menyerap kedisiplinan dan etos kerja tinggi. Modal itulah yang kemudian ia investasikan pada 1.200 ekor ayam pertama di atas tanah warisan neneknya pada tahun 1999.
Perjalanan John Eddi adalah potret evolusi teknologi peternakan. Dari masa awal di mana ia harus memberi makan ayam secara manual satu per satu, kini ia telah bertransformasi menjadi peternak modern. Salah satu titik balik besarnya terjadi pada tahun 2021, ketika ia beralih sepenuhnya dari mesin diesel ke tenaga listrik PLN. Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah strategi efisiensi. Dengan merakit sendiri mesin-mesin otomatis untuk pemberian pakan, John mampu menekan biaya investasi hingga separuh harga pasar. Inovasi ini membuktikan bahwa latar belakang pendidikan olahraga tidak menghalanginya untuk memahami teknik instalasi dan manajemen produksi yang kompleks.
Dunia peternakan adalah dunia yang penuh risiko. John Eddi pernah merasakan pahitnya serangan flu burung pada tahun 2005 yang memusnahkan ribuan ayamnya. Ia juga seringkali harus berhadapan dengan fluktuasi harga telur yang ekstrem. Namun, di saat peternak lain menyerah atau memprotes dengan membuang telur, John memilih tetap loyal kepada pelanggan dan offtaker-nya meski harus menjual dengan harga rugi. Prinsip "menjaga ceruk pasar" dan integritas bisnis inilah yang membuat PT Radja Poultry Shop mampu bertahan dan meluas hingga ke pasar Riau dan Jakarta. Baginya, hambatan bukanlah akhir, melainkan ruang untuk evaluasi biosecurity dan manajemen yang lebih ketat.
Lebih dari sekadar omzet miliaran rupiah, keberhasilan John Eddi terasa nyata melalui dampak sosial yang ia ciptakan. Dengan mempekerjakan lebih dari 260 karyawan di 12 titik lokasi, ia telah menjadi tumpuan hidup bagi banyak keluarga di sekitar lingkungannya. Ia tidak hanya menyediakan lapangan kerja, tetapi juga menjamin kesejahteraan melalui jaminan sosial dan penyediaan hunian bagi pekerjanya. Filosofi hidupnya sangat sederhana namun mendalam: "Semakin banyak kita memberi, itu akan kembali lagi ke kita." Ia tidak pelit berbagi ilmu kepada sesama peternak karena ia percaya bahwa gairah (passion) adalah pembeda utama yang tidak bisa ditiru orang lain. Dan memang, John Eddi adalah bukti nyata bahwa kesuksesan seorang pengusaha tidak hanya diukur dari angka di neraca keuangan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia tebar untuk masyarakat. Dari seorang pemuda Katinggian yang magang di Jepang, kini ia menjadi sosok "Wirausaha Tangguh" yang menginspirasi banyak orang untuk tidak takut bermimpi besar, terus belajar, dan tetap membumi meski telah berada di puncak kesuksesan.