Nasroel Chas Datuak Siri Mangkuto Nan Kayo

Satu lagi pengusaha dari Luhak Limo Puluah yaitu Nasroel Chas Datuak Siri Mangkuto Nan Kayo. Beliau lahir 16 Agustus 1943 di Andiang, Lima Puluh Kota, dan meninggal dunia pada 25 Maret 2008 di Bogor. Nasroel Chas dikenal sebagai pengusaha perhotelan dan properti di bawah bendera PT Pusako Tarinka. Melalui perusahaan tersebut, ia membangun beberapa hotel di Bali dan Sumatera Barat. Antara lain Kartika Plaza Beach Hotel, Bali Resort Palace Hotel, Hotel Pusako, dan Pusako Sikuai Island Resort, serta pusat kebudayaan Pusako Rumah Godang Cultural Center dan Pusako Minang Tour & Travel. Selain berbisnis, Nasroel juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan sebagai anggota MPR-RI (1997-2002) dan DPR-RI (1997-2002) dari utusan daerah.

Nasroel Chas Datuk Siri Mangkuto Nan Kayo adalah sosok pengusaha Indonesia yang lahir pada 16 Agustus 1943 di Andiang, Suliki, Lima Puluh Kota, dan meninggal dunia pada 25 Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat. Ia merupakan putra Minangkabau yang gigih dan visioner, yang berhasil menorehkan prestasi gemilang di dunia bisnis properti dan perhotelan. Lahir dari pasangan Haji Datuk Bagaduk dan Hj. Syamsidar, Nasroel merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Payakumbuh, ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Teknik Nasional (ATN), yang kini dikenal sebagai Institut Sains dan Teknologi. Pada tahun 1968, ia lulus dan memulai karirnya di perusahaan Jepang, Tasho Sangyo, yang bergerak di bidang real estat dan properti. Untuk meningkatkan keahliannya, ia kemudian menempuh pendidikan di Waseda University, Tokyo, Jepang, pada tahun 1969-1970, dan memperoleh gelar Gishi (ahli manajemen properti).

Nasroel memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 1974 dengan mendirikan perusahaan kontraktor, PT. Takarin. Namun, perusahaan ini mengalami kesulitan akibat kebijakan devaluasi November 1978. Meskipun menghadapi tantangan berat dan terlilit hutang, integritas dan kegigihan Nasroel Chas membuahkan hasil. Bank Tamara, tempat ia berhutang, memberikan suntikan dana yang justru menghasilkan keuntungan lebih besar baginya. Setelah sukses menyelesaikan proyek Ratu Plaza, Nasroel Chas diajak berpatungan oleh Tamara Grup dan mendirikan PT. Takarin Tamara pada tahun 1979. Di perusahaan inilah karirnya melesat, dan ia berhasil masuk ke jajaran konglomerat dengan bisnis perbankan dan real estat. Ia menjabat sebagai Presiden Direktur Tamara Grup hingga tahun 1988, sebelum akhirnya fokus pada bisnis perhotelan dan properti di bawah bendera PT. Pusako Tarinka.

Melalui PT. Pusako Tarinka, Nasroel Chas membangun sejumlah hotel ternama di Bali dan Sumatera Barat, seperti Kartika Plaza Beach Hotel, Bali Resort Palace Hotel, Hotel Pusako, dan Pusako Sikuai Island Resort. Ia juga mendirikan pusat kebudayaan Pusako Rumah Godang Cultural Center dan Pusako Minang Tour & Travel, sebagai bentuk kecintaannya pada budaya Minangkabau. Salah satu pencapaian terbesar Nasroel Chas adalah menggagas pembangunan Sudirman Central Business District (SCBD) pada tahun 1991. SCBD merupakan superblok pertama dan terbesar di Indonesia, dengan investasi mencapai Rp 7,5 triliun. Untuk mewujudkan proyek ini, ia mendirikan PT. Danayasa Arthatama, di mana ia menjabat sebagai Presiden Direktur. Selain itu, bersama dengan tokoh-tokoh pengusaha lainnya, ia mendirikan Nagari Development Corporation (NDC) dan menjabat sebagai Direktur Utama setelah Abdul Latief diangkat menjadi menteri.

Selain sukses dalam bisnis, Nasroel Chas juga aktif dalam kegiatan sosial dan politik. Ia pernah menjabat sebagai anggota MPR-RI dan DPR-RI dari utusan daerah pada periode 1997-2002. Nasroel Chas adalah sosok pengusaha Minangkabau yang gigih, visioner, dan memiliki integritas tinggi. Ia berhasil membangun kerajaan bisnis yang sukses, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun semangat dan inspirasinya akan terus hidup dalam kenangan dan karya-karyanya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url