Rico Rich

 

Rico Rich, yang memiliki nama lahir Hendrico Zafari, lahir di Padang pada 5 Oktober 1976 adalah musisi asal perantau Minang dari Payakumbuh. Rico Rich tumbuh dalam kesahajaan keluarga Aksar Frami dan Suryati. Latar belakang ini menempa dirinya menjadi sosok yang gigih dan mandiri. Sebelum menapaki panggung yang lebih besar, jalan hidupnya diwarnai dengan pengalaman menjadi seorang pengamen di Terminal Payakumbuh. Interaksinya dengan berbagai lapisan masyarakat dan kerasnya kehidupan terminal menjadi sekolah kehidupan yang tak ternilai harganya. Dari satu bus ke bus antar kota, ia melantunkan nada-nada kehidupan, mengasah kemampuan bermusiknya sekaligus mengumpulkan bekal untuk menggapai mimpi yang lebih tinggi.

Awal tahun 2000-an menjadi titik penting dalam perjalanan musiknya. bergabung dengan Komunitas Seni INTRO di Payakumbuh sebagai vokalis, kemudian berlanjut ke Komunitas Seni Langit dan Langitakustik, Rico Rich mulai menemukan identitas musikalnya. Pengalaman berorganisasi dan berkolaborasi dalam komunitas seni ini menjadi wadah untuk mengeksplorasi berbagai genre musik dan memperluas jaringan pertemanannya. Namun, panggilan untuk meraih mimpi yang lebih besar membawanya merantau ke Jakarta, sebuah langkah berani yang lazim ditemui dalam tradisi Minangkabau.

Di Jakarta, Rico Rich tidak hanya berkutat di dunia musik. Keahliannya merambah ke dunia perfilman, di mana ia menunjukkan bakatnya sebagai seorang art director. Karya-karyanya dalam film pendek seperti "Sigek Coklat" yang meraih penghargaan Artistik Terbaik di festival film pendek Colorado Landon, "The Dessert," "Asya Story," dan "Pare" membuktikan kepekaannya terhadap estetika visual dan kemampuannya dalam menciptakan atmosfer yang mendukung narasi film. Keterlibatannya dalam beberapa film layar lebar, iklan, dan sinetron semakin mengukuhkan posisinya sebagai seorang profesional yang serba bisa di industri kreatif. Kendati sukses di dunia perfilman, kecintaan Rico Rich terhadap musik tidak pernah pudar. Album musikalisasi puisi "Luka Laut" yang dirilis pada tahun 2005 menjadi bukti komitmennya terhadap seni suara. Melalui album ini, ia menggabungkan keindahan lirik puisi dengan melodi yang menyentuh, menciptakan sebuah karya yang memiliki kedalaman artistik. Single-single berikutnya, seperti "Mengejar Senja" yang diadaptasi dari novel "Sunset in Weh Island" dan "Ada Kopi Ada Cerita," menunjukkan kemampuannya dalam meramu musik yang relatable dengan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan formal Rico Rich memang terbatas pada Sekolah Menengah Atas di Payakumbuh. Namun, pengalaman hidupnya yang kaya, interaksinya dengan berbagai komunitas seni, dan ketekunannya dalam belajar secara otodidak telah memberikannya pengetahuan dan wawasan yang luas. Ia adalah contoh nyata bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada bangku sekolah, tetapi juga dapat diperoleh melalui pengalaman dan interaksi dengan dunia. Kehidupan pribadi Rico Rich juga mencerminkan nilai-nilai keluarga yang kuat. Pernikahannya dengan Sri Nuryani dikaruniai lima orang anak: Nando de Havana, Jingga Percik Kasih, Galih Zalfa Habiibah, Keyla Titian Nada, dan Raga Tasbih al Gazali. Kemudian, ia melanjutkan kehidupannya dengan Aida MA. Keluarga menjadi jangkar yang memberikannya kekuatan dan inspirasi dalam berkarya.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url