Silvia Oktari
Silvia Oktari merupakan sosok kreatif yang mendedikasikan dirinya untuk menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat Minangkabau melalui ruang digital. Lahir pada 21 Oktober 1984 di Tarantang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Silvia membawa akar budayanya yang kuat ke mana pun ia melangkah. Meskipun kini ia menetap di Ujung Batu, Provinsi Riau, kecintaannya terhadap tanah kelahiran tidak pernah luntur, justru menjadi inspirasi utama dalam setiap karya yang ia hasilkan bagi khalayak luas. Fokus utama konten Silvia yaitu merekam dan merekonstruksi suasana "masa jaman dulu" di Minangkabau. Melalui riset visual dan narasi yang apik, ia menghadirkan kembali tradisi, gaya hidup, hingga nuansa pedesaan Minang masa lalu yang mulai tergerus zaman. Konten-kontennya bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah arsip digital yang berfungsi sebagai pengingat akan jati diri dan kekayaan adat istiadat yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat.
Eksistensi Silvia tersebar luas di berbagai platform media sosial besar, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube. Di Facebook, ia menjalin interaksi yang akrab dengan komunitas melalui akun Silvia Oktari, sementara di Instagram dengan nama pengguna @Silvia_rich, ia menampilkan estetika visual yang memanjakan mata. Keberagaman platform ini memungkinkannya menjangkau berbagai lapisan generasi, dari orang tua yang ingin bernostalgia hingga anak muda yang ingin belajar sejarah. Melalui kanal YouTube @silviaoktari3668, ia menyajikan video dengan durasi yang lebih panjang, memberikan ruang bagi penonton untuk benar-benar meresapi suasana tempo dulu. Begitu pula di TikTok melalui akun @silviaoktari1, ia mengemas pesan-pesan budaya dalam durasi singkat yang dinamis dan edukatif. Kemampuannya beradaptasi dengan algoritma media sosial yang berbeda-beda membuktikan bahwa Silvia adalah seorang komunikator budaya yang sangat terampil dan modern.
Daya tarik utama dari karya Silvia terletak pada kemampuannya membangkitkan rasa rindu atau "taragak jo kampuang" bagi para pengikutnya. Penggambaran detail seperti peralatan rumah tangga tradisional, cara berpakaian masyarakat lama, hingga suasana pasar tradisional, membuat penonton merasa seolah ditarik kembali ke masa lalu. Dedikasi ini menjadikannya salah satu tokoh penting dalam pelestarian budaya Minangkabau secara virtual di era disrupsi informasi saat ini. Dengan latar belakang dari Lima Puluh Kota, ia berhasil melintasi batas geografis dari Ujung Batu untuk menyapa dunia dengan kekayaan budaya Minangkabau.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh