Mayjen TNI (Purn) Drs. H. Djasri Marin, S.H., Dt. Sinaro Rajo Mangkuto
Mayjen TNI (Purn) Drs. H. Djasri Marin, S.H., Dt. Sinaro Rajo Mangkuto merupakan sosok perwira tinggi yang memiliki rekam jejak gemilang, baik di dunia militer maupun panggung politik Indonesia. Lahir pada 30 Agustus 1950 di Kota Payakumbuh, ia tumbuh dengan nilai-nilai ketegasan dan pengabdian yang menjadi ciri khas latar belakangnya. Kehidupan pribadi Djasri Marin sangat kental dengan nilai-nilai kekeluargaan. Ia lahir dari pasangan Marin Dt. Sindo dan Rasi’an yang berasal dari suku Bodi Caniago, serta memiliki seorang saudara bernama Djusni. Dalam membina rumah tangga, ia menikah dengan Raden Mulyati (almh) dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Desi Septia Rani dan Mugia Yaritamanda. Keharmonisan keluarga menjadi fondasi kuat yang mendukung karier panjangnya yang penuh tantangan. Masa kecil dan remaja Djasri Marin dihabiskan di tanah kelahirannya dengan menempuh pendidikan dasar di SD Batu Payung. Ia kemudian melanjutkan sekolah ke SMP 2 Gadut yang terletak di Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota. Dedikasinya terhadap pendidikan terlihat sejak muda, di mana ia akhirnya menamatkan jenjang sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Payakumbuh, sekolah yang kelak menjadi bagian penting dari jaringan organisasinya di masa depan.
Kehormatan budaya juga melekat erat pada dirinya melalui gelar adat yang disandangnya. Di Nagari Batu Payung, Djasri Marin dipercaya mengemban amanah sebagai penghulu bagi suku Bodi Caniago dengan gelar Datuk Sinaro Rajo Mangkuto. Gelar ini mencerminkan posisinya sebagai pemimpin tradisional yang dihormati, sekaligus membuktikan bahwa meski berkarier cemerlang di tingkat nasional, ia tidak pernah melupakan akar budayanya di Ranah Minang. Karier militernya mencapai puncak saat ia menjabat sebagai Komandan Pusat Polisi Militer TNI (Danpuspom) periode 1998—2002. Pangkat Mayor Jenderal diraihnya melalui dedikasi yang panjang di korps baret biru. Sebelum memimpin Puspom TNI, ia telah memiliki jam terbang yang tinggi dengan menjabat sebagai Komandan Polisi Militer Kostrad serta Komandan Polisi Militer Kodam Jaya (Danpomdam Jaya) di wilayah DKI Jakarta.
Selama masa transisi reformasi, Djasri Marin juga memainkan peran penting dalam lembaga legislatif. Ia tercatat sebagai Anggota DPR RI periode 1999—2004 dari Fraksi TNI/Polri. Pengalaman ini memberikan dimensi baru dalam pengabdiannya, di mana ia tidak hanya bertugas dalam penegakan hukum militer, tetapi juga terlibat langsung dalam perumusan kebijakan publik dan pengawasan jalannya pemerintahan di masa krusial Indonesia. Setelah purnatugas dari militer pada tahun 2002, semangat pengabdiannya beralih ke ranah politik formal melalui Partai Golkar. Di partai berlambang pohon beringin tersebut, ia memegang posisi strategis sebagai Wakil Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga dan Pengendalian Keamanan pada Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Pusat. Keahliannya dalam strategi dan keamanan menjadi aset berharga bagi pengembangan organisasi politik tersebut.
Selain di partai politik, kepiawaian manajerial Djasri Marin juga dimanfaatkan dalam struktur birokrasi pemerintahan. Ia pernah mengabdi sebagai staf khusus di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) dan juga aktif di lingkungan Lemhannas RI. Peran-peran ini menunjukkan bahwa pemikirannya tetap dibutuhkan oleh negara guna memberikan masukan strategis terkait kesejahteraan masyarakat dan ketahanan nasional. Kepedulian Djasri Marin terhadap pengembangan bakat dan komunitas terlihat dari keterlibatannya yang luas di berbagai organisasi non-profit dan olahraga. Ia menjabat sebagai Ketua Forki DKI Jakarta, Ketua Wushu DKI Jakarta, Wakil Ketua Pertina, hingga Pembina Golf Minang. Di bidang olahraga populer, ia juga aktif sebagai Ketua Persatuan Sepakbola Gumarang, menunjukkan minatnya yang besar dalam membangun karakter generasi muda melalui sportivitas. Ia memimpin berbagai organisasi seperti Anak Luak Limo Puluah, Ketua Umum Himpunan SLTA se-Sumbar, serta Ketua Umum IKESMA I Payakumbuh. Dengan keterlibatannya sebagai Dewan Penyantun Unand dan Pembina Silaturahmi Saudagar Minang, Djasri Marin mengukuhkan dirinya sebagai tokoh multitalenta yang berhasil menyeimbangkan antara tugas negara, pengabdian sosial, dan pelestarian budaya.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh