Bukan Tobat yang Dipertanyakan, Tapi Cara Tubuh Bekerja

Oleh Adal Bonai


Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di kepala orang-orang yang aku wawancarai dengan cara sederhana di dalam laboratorium psikologi manusia yang sedang berjuang lepas dari kecanduan. Biasanya datang di tengah malam, saat sendirian, atau justru setelah hari yang terasa cukup baik,  "Kalau saya benar-benar ingin berubah, kenapa keinginan itu masih ada?"

Lalu menyusul pertanyaan yang lebih menyakitkan lagi, "Jangan-jangan saya memang kurang kuat iman. Kurang niat. Belum benar-benar tobat."

Pertanyaan semacam ini wajar muncul, karena selama ini kecanduan sering dibingkai sebagai soal moral semata, masalah kemauan, masalah karakter, masalah seberapa "kuat" seseorang menahan diri. Padahal, kalau kita mau melihat lebih dekat apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh, ceritanya jauh lebih rumit dari sekadar kuat atau lemah.

Coba bayangkan otak seperti sebuah sistem yang sudah dirancang jutaan tahun untuk membuat manusia bertahan hidup. Setiap kali kita makan saat lapar, berkumpul dengan orang yang kita sayangi, atau berhasil menyelesaikan sesuatu yang sulit, otak melepaskan zat kimia bernama dopamin. Dopamin inilah yang membuat kita merasa senang, puas, dan termotivasi untuk mengulangi hal-hal baik tersebut. Sistem ini disebut sistem penghargaan otak  semacam mekanisme "bagus, lakukan lagi" yang bekerja diam-diam setiap hari.

Masalahnya, narkoba tahu cara membajak sistem ini. Zat-zat tersebut memicu lonjakan dopamin yang jauh lebih besar daripada yang bisa dihasilkan makanan enak, ibadah, pelukan orang tercinta, atau pencapaian apa pun dalam hidup. Bagi otak, sinyal ini dibaca sebagai sesuatu yang "sangat penting untuk bertahan hidup"  padahal sebenarnya tidak.

Kalau ini terjadi sesekali, otak masih bisa menyesuaikan diri. Tapi kalau terjadi berulang-ulang dalam waktu lama, otak mulai berubah bentuk kerjanya. Ia mulai menganggap zat tersebut sebagai kebutuhan, bukan lagi pilihan.

Di dalam kepala ada bagian yang disebut korteks prefrontal  letaknya persis di balik dahi. Bagian inilah yang bertugas mempertimbangkan konsekuensi, menahan dorongan sesaat, dan mengambil keputusan jangka panjang. Sederhananya, ini adalah "suara akal sehat" dalam diri kita.

Sayangnya, penggunaan narkoba dalam jangka panjang bisa melemahkan kerja bagian ini, sementara bagian otak yang mengatur dorongan dan kebiasaan otomatis justru menjadi semakin dominan. Jadi yang terjadi bukan karena orang tersebut tidak punya niat baik. Yang terjadi adalah dua bagian otaknya sedang tidak seimbang: satu sisi ingin berubah, sisi lain masih mengirim sinyal lama yang begitu kuat.

Ini yang menjelaskan kenapa seseorang bisa menangis sungguh-sungguh menyesali kesalahannya, berjanji pada diri sendiri dan Tuhan bahwa ia akan berubah  dan tetap merasakan dorongan untuk kembali menggunakan di hari berikutnya. Bukan karena penyesalannya palsu. Tapi karena tubuhnya sedang berada di tengah proses yang belum selesai.

Bayangkan seseorang yang kakinya patah karena kecelakaan. Begitu tulangnya disambung, apakah ia langsung bisa berlari seperti sedia kala? Tentu tidak. Meski keinginannya untuk berjalan normal sangat besar, ototnya sudah mengecil, sarafnya butuh waktu membiasakan diri lagi, dan keseimbangannya harus dilatih ulang perlahan-lahan.

Tidak ada yang mengatakan orang itu "kurang niat untuk sembuh" hanya karena ia masih pincang di minggu pertama fisioterapi. Semua orang paham, tubuh butuh waktu.

Begitu pula dengan kecanduan. Sistem penghargaan otak yang sudah lama terbiasa dengan pola tertentu tidak bisa kembali normal hanya dalam semalam, sekuat apa pun niat seseorang. Ia butuh latihan berulang, waktu, dan dukungan yang tepat persis seperti otot dan saraf yang butuh direhabilitasi.

Niat untuk berubah, keputusan untuk berhenti, dan kesadaran bahwa ada yang salah semua itu adalah pintu masuk yang sangat penting. Tanpa niat itu, tidak ada proses pemulihan yang bisa dimulai. Tapi niat saja tidak cukup untuk memutar balik perubahan yang sudah terjadi di otak selama bertahun-tahun.

Di sinilah letak pergeseran cara pandang yang penting, alih-alih bertanya "Apakah dia benar-benar ingin berubah?", pertanyaan yang lebih adil dan lebih berguna adalah "Apakah dia sudah mendapat proses pemulihan yang sesuai dengan cara kerja tubuhnya?"

Karena bisa jadi, orang tersebut sudah punya niat yang tulus sejak awal. Yang belum ia dapatkan adalah pendampingan yang tepat: cara melatih ulang otaknya, cara mengelola dorongan saat itu muncul, dan waktu yang cukup untuk benar-benar pulih.

Berhenti menggunakan narkoba hanyalah bagian awal. Pemulihan yang sesungguhnya jauh lebih luas dari itu melatih otak untuk kembali merasakan kebahagiaan dari hal-hal sederhana, membangun kebiasaan baru yang sehat, belajar mengelola emosi tanpa lari ke zat, memperbaiki hubungan yang mungkin sempat rusak, dan perlahan menemukan kembali arah serta tujuan hidup.

Semua itu butuh waktu, dan itu bukan tanda kegagalan. Itu tanda bahwa prosesnya sedang berjalan sebagaimana mestinya.

Tobat adalah langkah pertama yang membuka pintu perubahan. Sains, di sisi lain, membantu kita memahami jalan panjang yang harus dilalui setelah pintu itu terbuka supaya perubahan yang dimulai dari hati bisa benar-benar bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam laboratorium psikologi manusia, banyak ruang-ruang yang bisa aku masuk secara bebas.Tidak hanya menggali tentang psikologi pemakai narkoba, ada ruang-ruang maling kecil, pelecehan sex, penipuan, pembunuh bayaran, TPPU hingga koruptor.

Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan. 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url