Emilio Audero: Anak Mataram di Balik Mistar Juventus dan Perjalanan Panjang Pulang ke Indonesia

 




Namanya terdengar sepenuhnya Italia—Emilio Audero. Tapi di tengah nama itu, tersembunyi satu kata yang menyimpan seluruh kisah asal-usulnya: Mulyadi. Emilio Audero Mulyadi, lahir 18 Januari 1997 di Mataram, Nusa Tenggara Barat, adalah bukti hidup bahwa jarak antara Italia dan Indonesia, antara sepak bola Serie A dan tanah kelahiran di ujung timur Nusantara, ternyata bisa dijembatani oleh satu nama keluarga yang tak pernah hilang.

Ditemukan di Usia 11 Tahun

Kisah Audero di dunia sepak bola dimulai jauh sebelum ia dikenal publik. Pada 2008, di usia baru 11 tahun, ia direkrut ke akademi Juventus setelah pandangan tajam pelatih kiper legendaris Michelangelo Rampulla menangkap bakatnya. Di level junior, bersama tim Primavera Juventus, Audero pernah membawa timnya melangkah hingga final Campionato Nazionale Primavera 2015–2016 di bawah asuhan Fabio Grosso—meski akhirnya kalah dramatis lewat adu penalti 7–6 melawan AS Roma setelah bermain imbang 1–1.

Jalan menuju tim utama Juventus pun tak instan. Ia pertama kali dipanggil masuk skuad senior oleh Massimiliano Allegri pada November 2014, namun hanya duduk di bangku cadangan. Situasi serupa terulang berkali-kali: sepanjang musim itu ia lima kali lagi hanya menjadi penonton dari pinggir lapangan. Musim berikutnya, meski telah menandatangani kontrak profesional pertamanya dan bahkan masuk daftar skuad UEFA, ia tetap dipanggil 18 kali tanpa pernah benar-benar bermain.

Penantian di Balik Bayang Buffon

Kesabaran Audero benar-benar diuji ketika ia harus antre di belakang kiper legendaris Gianluigi Buffon dan Neto sebagai opsi ketiga klub musim 2016–2017. Total 61 kali ia dipanggil ke skuad liga sebelum akhirnya kesempatan itu datang: 27 Mei 2017, di usia 20 tahun, pada laga terakhir Serie A musim itu melawan Bologna yang berkesudahan 2–1 untuk kemenangan tandang Juventus. Debut yang datang setelah bertahun-tahun menunggu.

Setelah momen itu, Audero memilih jalan yang lazim ditempuh talenta muda Italia: mencari menit bermain lewat status pinjaman. Ia pindah ke Venezia di Serie B pada Juli 2017, lalu setahun kemudian berlabuh di Sampdoria dengan opsi pembelian. Performanya meyakinkan hingga Sampdoria resmi mempermanenkan transfernya seharga €20 juta pada Februari 2019. Di klub asal Genoa itulah Audero benar-benar berkembang, mencatatkan 169 penampilan di semua ajang selama lima musim.

Dari Degradasi ke Petualangan Baru

Ketika Sampdoria terdegradasi ke Serie B, Audero pindah haluan. Inter Milan meminjamnya pada Agustus 2023, lengkap dengan opsi permanen di masa depan. Setahun berselang, klub promosi Como 1907 mengikat Audero dengan kontrak panjang empat tahun pada Juli 2024. Namun perjalanan kembali berputar arah: Februari 2025, ia dipinjamkan ke klub Serie B, Palermo, hingga akhir musim.

Sebagai penjaga gawang bertubuh tinggi, reputasinya dibangun atas determinasi, refleks tajam, dan kemampuan menghentikan tembakan jarak dekat, ditambah kecepatan keluar dari garis gawang untuk menyapu bola—kualitas yang membuat timnya berani bermain dengan garis pertahanan tinggi. Kelemahannya yang kerap disorot justru soal distribusi bola dengan kaki. Reputasi itu sempat mengantarkannya masuk daftar pemain muda Eropa paling menjanjikan versi UEFA pada 2019.

Jalan Memutar Menuju Skuad Garuda

Di level internasional junior, Audero sempat malang melintang membela Italia dari level U-15 hingga U-21 sejak 2012, termasuk tampil di Kejuaraan U-17 Eropa UEFA 2013. Ia bahkan sengaja tidak dimasukkan skuad Italia U-20 untuk Piala Dunia U-20 FIFA 2017 di Korea Selatan, karena Juventus ingin memastikan statusnya tetap memenuhi syarat untuk klub. Debutnya di level U-21 Italia baru terjadi September 2017, dalam kemenangan 4–1 melawan Slovenia.

Namun garis takdir Audero rupanya sudah tertulis sejak lahir. Ia lahir di Mataram dari pasangan ayah berkebangsaan Indonesia, Edy Mulyadi, dan ibu asal Italia, Antonella Audero. Keluarga itu pindah ke kampung halaman sang ibu di Cumiana, Italia, ketika Audero baru berusia satu tahun—meninggalkan sepenggal masa kecil di Mataram yang mungkin nyaris tak ia ingat.

Puluhan tahun kemudian, akar itu kembali memanggil. Februari 2025, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengumumkan Audero sebagai salah satu calon pemain naturalisasi baru Timnas Indonesia, menjelang laga melawan Australia. Prosesnya berjalan relatif cepat: pada 10 Maret 2025, Audero resmi mengantongi kewarganegaraan Indonesia, sejajar dengan nama-nama lain seperti Joey Pelupessy dan Dean James yang lebih dulu menjalani proses serupa.

Pulang ke Rumah yang Tak Pernah Sempat Dikenalnya

Kisah Emil Audero adalah kisah tentang pulang—bukan ke tempat yang dikenalnya, melainkan ke identitas yang selama ini melekat diam-diam dalam namanya sendiri. Dari akademi Juventus yang ketat persaingannya, dari bangku cadangan yang menguji kesabaran seorang kiper muda, hingga akhirnya karier yang berputar dari Serie A ke Serie B dan kembali lagi, Audero menempuh jalan panjang sebelum akhirnya nama "Mulyadi" yang selama ini terselip di ujung namanya benar-benar berarti sesuatu: sebuah panggilan pulang ke Indonesia, negeri tempat ia menghirup napas pertama kali.


Ditulis berdasarkan data dari Wikipedia Bahasa Indonesia dan sumber-sumber pemberitaan terkait.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url