Kisah Maarten Paes: Jejak Kediri di Bawah Mistar Timnas Indonesia
Di sebuah kota kecil di Belanda, seorang bocah tumbuh besar tanpa pernah membayangkan namanya kelak diteriakkan puluhan juta orang di ujung dunia lain—di negeri asal neneknya, Indonesia. Maarten Vincent Paes, lahir 14 Mei 1998, awalnya hanyalah penjaga gawang muda yang menapaki jalur sepak bola Eropa selayaknya ratusan pemain akademi lainnya. Tak ada yang menyangka, garis keturunan yang tersimpan diam-diam dalam silsilah keluarganya akan membawanya menyeberangi benua, budaya, dan identitas kebangsaan.
Dari Bangku Cadangan ke Tembok Kokoh
Karier profesional Paes dimulai dengan cara yang tidak istimewa. Musim 2017–2018, ia hanya kebagian peran sebagai penjaga gawang kedua di NEC Nijmegen, berdiri di bayang-bayang Joris Delle. Namun setahun berselang, sebuah pintu terbuka: pada April 2018, Paes menandatangani kontrak tiga tahun dengan FC Utrecht, lengkap dengan opsi perpanjangan tahun keempat. Debutnya di kompetisi elite Belanda, Eredivisie, terjadi Agustus 2018 saat Utrecht berhadapan dengan PEC Zwolle.
Di level junior, jalan Paes juga tak selalu mulus. Ia sempat menjadi bagian skuad Belanda U-19 di dua ajang Kejuaraan Eropa U-19 UEFA, 2016 dan 2017, tetapi statusnya sebagai lapis kedua di belakang Yanick van Osch dan Justin Bijlow membuatnya tak pernah benar-benar turun ke lapangan. Bagi seorang kiper, menunggu di pinggir lapangan barangkali adalah ujian kesabaran yang paling sunyi.
Menyeberangi Atlantik
Titik balik datang pada Januari 2022. Paes dipinjamkan ke FC Dallas di Major League Soccer selama enam bulan—sebuah petualangan yang awalnya terdengar sementara. Namun performa yang meyakinkan membuat Dallas tak ingin melepasnya. Pada Juni 2022, klub asal Texas itu resmi menebus opsi permanen, dan Paes pun menetap di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian, langkahnya semakin mapan ketika ia bersama rekan setimnya Alan Velasco dan Tsiki Ntsabeleng memperoleh status residen tetap AS lewat green card, Maret 2024.
Warisan dari Kediri
Namun bab paling dramatis dalam hidup Paes justru bukan soal klub, melainkan soal akar keluarga. Nun jauh di Jawa Timur, seorang perempuan lahir di Kediri pada masa yang masih disebut Hindia Belanda. Perempuan itu adalah nenek dari pihak ibu Paes—dan garis darah itulah yang membuka jalan bagi sang kiper untuk mengklaim kewarganegaraan Indonesia.
Prosesnya tidak sederhana. Januari 2024, kabar bahwa Paes berniat membela Indonesia mulai mencuat. Tiga bulan kemudian, tepatnya 30 April 2024, ia resmi menyandang status Warga Negara Indonesia lewat jalur naturalisasi. Tapi status FIFA-nya sempat tersandung: aturan federasi sepak bola dunia menyebutkan bahwa pemain yang sudah tampil di kompetisi resmi untuk timnas negara lain di atas usia 21 tahun tak lagi bisa berpindah asosiasi. Paes pernah membela timnas Belanda U-21, sehingga secara teknis ia sempat dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Perjuangan administratif itu baru berakhir 18 Agustus 2024, ketika Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengumumkan bahwa setelah proses panjang, Paes akhirnya dinyatakan berhak membela Indonesia di kancah internasional.
Debut yang Dramatis
Kesempatan itu tak butuh waktu lama untuk dibuktikan. September 2024, Paes dipanggil untuk kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026. Pada 5 September, ia melakoni debut internasionalnya melawan Arab Saudi dalam laga yang berakhir imbang 1–1. Laga itu penuh drama: Paes melakukan pelanggaran di kotak penalti sendiri, namun menebusnya dengan gemilang lewat penyelamatan gemilang atas eksekusi penalti Salem Al-Dawsari. Penampilan itu mengantarkannya meraih predikat pemain terbaik pertandingan.
Lima hari berselang, 10 September 2024, Paes kembali tampil solid saat Indonesia menahan imbang Australia 0–0 tanpa kebobolan satu gol pun.
Lebih dari Sekadar Kiper
Kisah Maarten Paes bukan sekadar cerita tentang seorang penjaga gawang yang berpindah negara demi karier internasional. Ia adalah potret bagaimana sepak bola modern menembus batas geografis dan sejarah kolonial—bagaimana jejak seorang nenek yang lahir di sebuah kota kecil di Jawa Timur, puluhan tahun silam, bisa menjelma menjadi identitas baru bagi cucunya yang tumbuh besar ribuan kilometer jauhnya. Di bawah mistar gawang Timnas Indonesia, Paes membawa serta dua dunia: disiplin sepak bola Eropa dan harapan besar sepak bola Indonesia yang tengah berbenah menatap panggung Piala Dunia.
Ditulis berdasarkan data dari Wikipedia Bahasa Indonesia dan sumber-sumber pemberitaan terkait.
