Doffi Djohar Dt. Mansua Nan Bakuku Ameh
Doffi Djohar Dt. Mansua Nan Bakuku Ameh merupakan sosok yang menginspirasi, baik di kampung halamannya, Nagari Situjuah Batua, maupun di rantau. Lahir di Padang pada 5 Januari 1959, putra dari pasangan Djohar bin Zainal dan Yulinar Binti Rasyidin Jamal ini telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, dedikasi, dan kepedulian terhadap sesama, seseorang dapat meraih kesuksesan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Perjalanan karier Doffi Djohar di dunia perminyakan dan gas sangat mengesankan. Selama 20 tahun (1980-2000) bekerja sebagai Superintendent Petroleum & Gas di PT. Carsurin, beliau menunjukkan profesionalisme dan keahlian yang tinggi. Kemudian, beliau melanjutkan kariernya sebagai head of inspection services division di PT. Geoservices sejak tahun 2000 hingga sekarang. Kesuksesan di dunia profesional ini menjadi salah satu pilar yang menopang kiprahnya di berbagai bidang lainnya. Namun, kesuksesan karier tidak membuat Doffi Djohar melupakan akar budayanya. Sebagai penghulu adat kaum Pitopang di Nagari Situjuah Batua, beliau aktif dalam kegiatan adat dan budaya. Kecintaannya pada kampung halaman juga diwujudkan dengan mendirikan dan membina Yayasan Peduli Nagari Situjuah Batua serta Perguruan Tahfiz Insan Kamil. Yayasan ini menjadi wadah untuk membantu masyarakat Situjuah Batua dalam berbagai bidang, sementara perguruan tahfiz menjadi sarana untuk pendidikan agama bagi generasi muda.
Di rantau, Doffi Djohar juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Beliau dipercaya sebagai Ketua Ikatan Keluarga Situjuah Batua Jabotabek dan sekitarnya, serta Ketua Ikatan Keluarga Situjuah Batua Nusantara. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai seksi seni dan budaya Badan Koordinasi Ikatan Keluarga Payakumbuh dan Lima Puluh Kota (Bakor Paliko). Melalui organisasi-organisasi ini, beliau menjalin silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Minangkabau di perantauan. Doffi Djohar, yang akrab disapa Datuak Kuku, adalah sosok yang rendah hati dan peduli terhadap sesama. Beliau dikenal sebagai kayu gadang di tangah padang, batangnyo tampek basanda, ureknyo tampek bagantuang, rimbun daunnyo tampek bataduah, artinya, beliau adalah sosok yang menjadi tempat berlindung, tempat mencari solusi, dan tempat berbagi bagi banyak orang.
Kini, Doffi Djohar menetap di Cipayung, Jakarta Timur, bersama istrinya, Firmaniah Danus, dan ketiga anaknya, Melinda Wetty Monigsih, Atikah Zatta Amani, dan Muhammad Zikri Ramadhan. Beliau adalah figur inspiratif yang telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, baik di kampung halaman maupun di rantau. Semoga keteladanan beliau dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh