Ir. Djali Ahimsa, M.Sc

 

Ir. Djali Ahimsa, M.Sc, seorang tokoh penting dalam pengembangan teknologi nuklir di Indonesia, lahir di Bagansiapi-api, pada 31 Mei 1931. Meskipun lahir di Riau, kedua orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Sosok ayah dari empat anak ini dikenal memiliki kegemaran menyelam di laut dan pernah menjabat sebagai ketua Jakarta Diving Club. Namun, yang paling menonjol dari dirinya adalah kontribusinya dalam dunia nuklir Indonesia.

Pada Januari 1984, Djali Ahimsa ditunjuk sebagai Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), menggantikan Prof. Dr. A. Baiquni. Penunjukan ini menunjukkan pengakuan atas keahliannya yang mendalam di bidang nuklir. Djali Ahimsa merupakan salah satu dari sedikit orang Indonesia yang memiliki pemahaman komprehensif tentang persoalan nuklir. Perkenalannya dengan dunia nuklir dimulai saat ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang diselesaikannya pada tahun 1958. Setelah lulus, ia bergabung dengan Batan dan langsung dihadapkan pada tugas besar sebagai Kepala Proyek Pembangunan Reaktor Atom Bandung, saat usianya baru 31 tahun. Kariernya terus menanjak, dan ia dipercaya menjadi pembantu Dirjen Batan Urusan Penelitian dan Pengembangan hingga tahun 1968.

Kiprah Djali Ahimsa tidak hanya terbatas di tingkat nasional. Selama 15 tahun, ia bertugas di Wina, Austria, di Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), menjabat sebagai Kepala Standardisasi. Pengalaman internasional ini memperkaya pengetahuannya dan memperluas jaringan kerjanya di bidang nuklir. Selama masa kepemimpinannya di Batan, berbagai teknologi nuklir berhasil dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Batan mengembangkan perangkat radiasi untuk pengawetan kayu lapis. Di bidang kedokteran, produksi isotop Batan secara rutin melayani rumah sakit-rumah sakit besar seperti RSCM, RS Persahabatan Jakarta, dan RS Hasan Sadikin Bandung. Sementara itu, di sektor pertanian, teknologi benih, pengendalian hama, dan penghitungan distribusi akar juga memanfaatkan radioisotop. Kontribusi Djali Ahimsa sangat signifikan dalam memajukan teknologi nuklir di Indonesia. Ia tidak hanya ahli dalam bidangnya, tetapi juga memiliki visi untuk menerapkan teknologi nuklir demi kemajuan bangsa. Dedikasinya telah membuka jalan bagi pengembangan aplikasi nuklir di berbagai sektor, memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia. Beliau meninggal dunia hari Jumat, 19 Februari 2021 jam 07.11 di RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta. Dimakamkan di Makam Taman Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url