H. Darwis Dt. Tumangguang

 

Darwis Dt. Tumangguang—lengkapnya H. Darwis Dt. Tumangguang atau lebih dikenal dengan sebutan Darwis Taram—adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan, bupati, dan tokoh Masyumi. Ia lahir di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 1902 dan meninggal dunia di Taram pada 1 Januari 1961. Ibunya bernama Koti suku Piliang dan menjadi anak tunggal. Ia menikah dengan Hj. Samsi Darwis dan dikaruniai 5 orang anak yaitu Hj. Husna Darwis, Hj. Ita Darwis, H. Amri Darwis, Hj. Ati Darwis, H. Djasdi Darwis. Salah satu anaknya yang turut mengikuti langkahnya menjadi bupati adalah Dr. Drs. H. Amri Darwis, S.A., M.M.. (periode 20005—2010) sedangkan menjadi wakil bupati pada periode 2000—2005.

Darwis Taram menjalani masa kecilnya di Taram dan masa-masa sekolahnya di Taram dan melanjutkan pendidikan perguruan tingginya di Al Azhar Cairo, Mesir. Ia merupakan salah satu panitia pengibaran bendera merah putih pertama di Kota Payakumbuh dan Lima Puluh Kota bersama Fachruddin HS Dt. Majo Indo, Buya Zainuddin Hamidy, Arisun Sutan Alamsyah, H. Rusli A. Wahid, Amiruddin KR, Anwar ZA, dr. Adnan WD, dll. Dalam karir politik, Darwis Taram juga pernah menjadi bupati di Kabupaten Pasaman pada tahun 1946—1947. Selepas itu ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Solok pada 3 Maret 1947—27 Mei 1950. Dan pada masa ini, Darwis Taram mengalami dua kali masa agresi militer Belanda pada 21 Juli 1947 (agresi militer I) dan 19 Desember 1948 (agresi militer II) semasa menjabat bupati. Setelah itu, ia menjadi bupati di Kabupaten 50 Kota sejak tahun 1950—1956 menggantikan Saalah Yusuf Sutan Mangkuto. Sewaktu menjabat sebagai bupati itu ia merupakan salah satu tokoh penggagas pembentukan Kota Kecil Payakumbuh bersama Nazar Rauf, Zainuddin Hamidy, Hakim Dt. Bandaro Hitam, Biran Marajo Alam, Datuk Marajo Adia, Syamsul Yahya, Nur Basyar Dt. Mamangun Nan Hitam, dan Bachtiar Dt. Pado Pangulu. Rapat itu diadakan pertama kali 28 Juli 1950 di Gedung Sekolah Mahat Islami dan 16 September 1950 di Gedung Sekolah Muhammadiyah Bunian.

Sebagai tokoh politik dari Masyumi, Darwis juga ikut tergabung dalam pendirian Dewan Banteng pada 20 Desember 1956 dengan ketuanya Kol. Ahmad Husein dan Darwis Taram sebagai anggota. Dengan dibentuknya Dewan Banteng maka telah bermuara atas lahirnya Pemerintah Revolusi Republik Indonesia PRRI pada 15 Februari 1958. PRRI muncul karena ketidakpuasan di daerah terhadap kebijakan pusat. 

 Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url