HARRIKO FESFUSI
Semangat kewirausahaan orang Minangkabau sering kali diibaratkan dengan pepatah "marantau madang di hulu, berbuah berbunga belum". Peribahasa ini menggambarkan keberanian untuk meninggalkan kampung halaman demi meraih kesuksesan di negeri orang. Salah satu bukti nyata dari semangat ini adalah Harriko Fesfusi, atau yang akrab disapa Captain Riko. Putra asli Nagari Situjuah Gadang ini tidak hanya merantau melintasi batas geografis, tetapi juga berhasil membangun kerajaan bisnis di industri yang sangat eksklusif: penyewaan helikopter dan pariwisata udara.
Lahir pada 26 Desember 1985 di Lirik, Indragiri Hulu, Riau, Harriko menghabiskan masa remajanya di tanah leluhur, Nagari Situjuah Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota. Sebagai putra sulung dari empat bersaudara, ia tumbuh dalam disiplin tinggi di bawah asuhan seorang ayah yang merupakan prajurit TNI Angkatan Darat asal Padang Ambacang. Latar belakang keluarganya yang bersuku Tanjuang dan pendidikan menengahnya di SMP Negeri 4 Situjuah membentuk karakter Harriko yang tangguh. Meskipun kini ia dikenal sebagai pengusaha sukses di Bali, identitas sebagai "Urang Awak" tetap melekat erat dalam setiap langkah strateginya.
Perjalanan karier Harriko dimulai pada tahun 2008. Selama hampir satu dekade (2008–2017), ia mengasah kemampuannya sebagai pilot helikopter di sektor industri minyak dan gas yang penuh tantangan. Namun, visi Harriko melampaui sekadar menjadi pilot profesional. Pada tahun 2017, ia memutuskan untuk beralih ke sektor pariwisata, sebuah langkah berani yang kemudian melahirkan PT Fly Bali Indoaviasi (Fly Bali) pada tahun 2019. Fly Bali bukan sekadar perusahaan penyewaan helikopter; ia adalah manifestasi dari kecintaan Harriko pada penerbangan dan keindahan alam Indonesia. Melalui Fly Bali, ia menawarkan pengalaman terbang mewah yang memberikan perspektif baru bagi para wisatawan untuk menikmati eksotisme Pulau Dewata dari udara.
Keberhasilan di Bali tidak membuat Harriko berpuas diri. Semangat ekspansinya terus berkobar dengan merambah wilayah lain seperti Labuan Bajo (Fly Bajo) dan Sumba (Fly Sumba). Menariknya, pada tahun 2025 ini, Harriko kembali "menengok" ke kampung halamannya dengan rencana pembukaan Fly Andalas. Proyek ini diharapkan dapat membuka akses pariwisata udara yang lebih luas di Sumatera, sekaligus menjadi jembatan pengabdian bagi tanah kelahirannya. Harriko Fesfusi telah membuktikan bahwa keterbatasan asal-usul bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi dan bisnis tingkat tinggi. Dengan mengombinasikan entrepreneurship dan hobi penerbangan, ia tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga memperkuat infrastruktur pariwisata Indonesia.