Sukma Ayu
Sukma Ayu, nama yang mungkin masih terngiang di benak para penikmat sinetron Indonesia awal tahun 2000-an. Lahir pada 10 November 1979, putri dari pasangan seniman Misbach Yusa Biran berdarah Minagkabau dari Dangung-Dangung dan Nani Wijaya ini mewarisi bakat seni kedua orang tuanya. Sayangnya, perjalanan hidup Sukma Ayu harus terhenti di usia yang sangat muda, 25 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan penggemarnya.
Sukma Ayu mengawali kariernya di dunia hiburan pada akhir tahun 1990-an. Ia dikenal luas melalui perannya dalam berbagai sinetron populer, seperti "Kau Selalu di Hatiku", "Buah Hati Mama", dan yang paling ikonik, "Kecil-Kecil Jadi Manten". Dalam sinetron tersebut, ia memerankan tokoh Rohaye, seorang gadis Betawi tomboi yang ceria dan apa adanya. Perannya ini sangat melekat di hati penonton dan menjadikannya salah satu aktris muda yang paling bersinar pada masanya. Selain sinetron, Sukma Ayu juga sempat membintangi film layar lebar berjudul "Gadis-Gadis Asrama" pada tahun 2003. Bakat aktingnya yang natural dan pembawaannya yang ceria membuat ia mudah disukai oleh banyak orang.
Pada April 2004, kabar mengejutkan datang dari Sukma Ayu. Ia dikabarkan mengalami koma setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Medistra. Berbagai spekulasi pun bermunculan mengenai penyebab komanya, salah satunya dugaan malpraktik. Namun, pihak rumah sakit membantah tuduhan tersebut. Setelah berjuang selama 5 bulan 16 hari dalam kondisi koma, Sukma Ayu akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada 25 September 2004. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi dunia hiburan Indonesia. Berita tentang Sukma Ayu mendominasi pemberitaan nasional pada masa itu, menunjukkan betapa besar perhatian masyarakat terhadap sosoknya. Meskipun telah tiada, kenangan tentang Sukma Ayu tetap hidup di hati para penggemarnya. Perannya sebagai Rohaye dalam "Kecil-Kecil Jadi Manten" menjadi salah satu ikon sinetron Indonesia yang tak terlupakan. Ia dikenang sebagai sosok aktris muda yang berbakat, ceria, dan penuh semangat.
Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh