Kecanduan, Jeritan Luka yang Tidak Terdengar
Oleh Adal Bonai
Ketika melihat seseorang memakai narkoba, masyarakat sering terburu-buru memberikan penilaian. Ia dianggap lemah, tidak memiliki kemauan, kurang bersyukur, atau sengaja merusak kehidupannya sendiri. Namun, ertanyaan yang lebih penting bukan hanya "Mengapa ia memakai narkoba?", melainkan "Rasa sakit apa yang sedang ia coba redakan?"
Aku pernah tinggal cukup lama di sebuah tempat, tanpa berlebihan, boleh aku sebut sebagai laboratorium psikologi manusia yang paling jujur. Di ruang sempit itu, tidak ada seorang pun yang bisa lagi bersembunyi di balik jabatan, gelar, atau topeng sosial yang biasa dipakai di luar sana. Yang tersisa hanyalah manusia dengan riwayatnya masing-masing, dan anehnya, semakin lama aku berada di sana, semakin jelas sebuah pola yang berulang. Hampir setiap orang yang kukenal di dalam, ketika ceritanya digali sampai ke akar, ternyata membawa luka yang jauh lebih tua daripada perbuatan yang membuatnya dipenjara. Ada yang dibesarkan dalam rumah yang penuh kekerasan. Ada yang tidak pernah sekali pun mendengar kalimat "kamu berharga" dari orang tuanya. Ada yang ditinggalkan sejak kecil dan belajar bahwa kelekatan hanya akan berakhir dengan kehilangan. Luka-luka itu datang dari latar yang berbeda-beda, tetapi di ruang yang sama, mereka seperti berkumpul dan saling mengenali satu sama lain. Aku menyaksikan sendiri bagaimana zat yang mereka pakai di luar sana bukanlah sumber masalah yang berdiri sendiri, melainkan jalan pintas yang aku dan mereka temukan untuk membungkam rasa sakit yang sudah lebih dulu ada, jauh sebelum narkoba itu mereka kenal.
Dari situ aku mulai memahami, jauh sebelum saya membaca tulisan-tulisan Gabor Maté, bahwa pertanyaan yang tepat memang bukan "apa yang salah dengan orang ini", melainkan "apa yang pernah terjadi pada orang ini". Laboratorium psikologi manusa mengajarkanku untuk mendengar riwayat sebelum menjatuhkan penilaian, karena di balik hampir setiap kasus yang tampak sebagai kegagalan moral, ada anak kecil yang dulu tidak pernah dijaga.
Dalam pandangan Maté, narkoba sering digunakan bukan semata-mata untuk mencari kesenangan. Bagi sebagian orang, zat tersebut memberikan ketenangan, rasa aman, keberanian, atau kelegaan sementara dari tekanan batin. Masalahnya, kelegaan itu tidak bertahan lama. Ketika efeknya menghilang, rasa sakit kembali muncul dan orang tersebut terdorong untuk menggunakannya lagi. Dari sinilah pola kecanduan dapat terbentuk. Maté menggambarkan kecanduan sebagai usaha manusia untuk mengatasi rasa sakit emosional, stres berat, kehilangan hubungan, atau ketidaknyamanan mendalam terhadap dirinya sendiri.
Rasa sakit tersebut tidak selalu berasal dari kejadian traumatis yang terlihat jelas. Kekerasan, pelecehan, kehilangan, dan penelantaran memang dapat meninggalkan luka mendalam. Namun, luka emosional juga bisa muncul ketika seseorang tumbuh tanpa rasa aman, perhatian, penerimaan, atau hubungan yang cukup hangat. Dalam keadaan seperti itu, narkoba dapat berfungsi sebagai "obat sementara" yang membuat seseorang tidak perlu merasakan kesepian, ketakutan, malu, atau kehampaan untuk beberapa saat. Aku melihat langsung bagaimana luka-luka yang tidak terlihat ini, yang tidak pernah dicatat di berkas perkara siapa pun, justru menjadi benang merah yang menghubungkan begitu banyak orang di balik jeruji yang datang dari latar belakang yang jauh berbeda.
Memahami hal ini bukan berarti membenarkan penggunaan narkoba. Narkoba tetap dapat merusak kesehatan, hubungan, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan seseorang. Memahami berarti menyadari bahwa hukuman, penghinaan, dan pengucilan saja tidak otomatis menyelesaikan akar masalahnya. Aku menyaksikan sendiri bahwa dinding penjara bisa menahan tubuh, tetapi tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka yang membawa seseorang sampai ke sana. Gangguan penggunaan narkoba lebih tepat ditangani melalui pelayanan kesehatan, perawatan yang berbasis bukti, dukungan sosial, dan lingkungan yang membantu proses pemulihan.
Tidak semua penggunaan narkoba dapat dijelaskan hanya melalui trauma. Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kecanduan dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berhubungan, seperti kondisi biologis, perubahan pada otak, kesehatan mental, lingkungan keluarga, pergaulan, ketersediaan narkoba, pengalaman hidup, dan kerentanan genetik. Trauma merupakan faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penjelasan.
Karena itu, memahami orang dengan kecanduan tidak berarti menghilangkan tanggung jawab pribadi. Mereka tetap perlu bertanggung jawab atas perilaku dan dampak tindakannya. Akan tetapi, tanggung jawab sebaiknya berjalan bersama pertolongan. Seseorang akan lebih sulit berubah ketika terus dipermalukan dan dianggap tidak berguna. Sebaliknya, pemulihan menjadi lebih mungkin ketika ia diperlakukan sebagai manusia yang masih memiliki harga diri dan kesempatan untuk membangun kehidupannya kembali. Ini bukan teori. Aku pernah berdiri di titik itu, dan aku tahu betapa besar bedanya diperlakukan sebagai manusia yang masih bisa berubah, dibandingkan sekadar dicap sebagai kegagalan yang selesai.
Di balik penggunaan narkoba, mungkin terdapat seseorang yang sedang berusaha bertahan dengan cara yang berbahaya. Kita tidak perlu menyetujui tindakannya untuk mencoba memahami penderitaannya. Sebab, kecanduan bukan hanya persoalan zat yang digunakan, tetapi juga persoalan luka, kebutuhan, hubungan, dan kehidupan manusia yang ada di baliknya. Di laboratorium psikologi manusia tempat aku pernah tinggal, aku belajar bahwa hampir setiap luka lama, jika dibiarkan tanpa didengar, cepat atau lambat akan mencari jalan keluar. Terkadang jalan itu berbentuk narkoba. Dan tugas kita, sebagai sesama manusia, bukan untuk menghakimi jalan itu dari luar, melainkan untuk membantu menemukan jalan yang lebih menyembuhkan.
Adal Bonai adalah pendiri ROE (Recovery Oriented Education), yang mengintegrasikan psikoterapi Islam, kearifan budaya Minangkabau, dan pendekatan berbasis trauma dalam pendampingan pemulihan.
