Awang Alak Betatar

 

Awang Alak Betatar, yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Shah, adalah sosok penting dalam sejarah Brunei Darussalam. Ia dikenal sebagai pendiri kesultanan Brunei dan raja Islam pertama di wilayah tersebut. Kelahirannya pada tahun 1363 di Nagari Piobang, Luhak Lima Puluh, Minangkabau, menjadikannya tokoh yang menghubungkan sejarah Minangkabau dengan Brunei. Awang Alak Betatar berasal dari Nagari Piobang, sebuah wilayah di Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Nagari ini memiliki luas sekitar 11,23 kilometer persegi dan berjarak sekitar 16 kilometer dari ibu kota kabupaten. Informasi ini menegaskan bahwa akar sejarah Sultan Muhammad Shah tertanam kuat di tanah Minangkabau.

Perjalanan Awang Alak Betatar menuju Brunei tidak terlepas dari dinamika politik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-14. Ia menikah dengan seorang putri dari Johor, Puteri Dayang Pinggai, yang memperkuat posisinya di wilayah tersebut. Pernikahan ini juga menjadi salah satu faktor yang mendorongnya untuk memeluk agama Islam, yang kemudian diresmikan dengan gelar Sultan Muhammad Shah. Pada tahun 1363, Awang Alak Betatar mendirikan Kesultanan Brunei, menjadikannya sultan pertama. Ia membawa serta tradisi dan budaya Minangkabau, yang kemudian berbaur dengan budaya lokal Brunei. Hal ini terlihat dari beberapa tradisi kesultanan Brunei yang memiliki kemiripan dengan tradisi Minangkabau.

Puterinya yang bernama Puteri Ratna Dewi menikah dengan Ong Sum Ping, seorang keturunan bangsawan Tiongkok. Pada tahun 1371, Sultan Muhammad Shah mengirimkan utusan ke Kekaisaran Dinasti Ming di Tiongkok. Dalam catatan Tiongkok, ia disebut dengan nama Ma-ha-mo-sha. Pengakuan dari Tiongkok ini menunjukkan bahwa Kesultanan Brunei telah diakui sebagai kekuatan politik yang sah di kawasan tersebut. Sultan Muhammad Shah wafat pada tahun 1402, meninggalkan warisan yang besar bagi Brunei Darussalam. Ia telah meletakkan dasar bagi kesultanan yang kuat dan berdaulat. Jejaknya juga dapat dilihat dari nama jalan di Brunei yang menggunakan nama "Piobang", serta penyebutan asal usulnya di mata uang Brunei.

 

Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url