Djamaran H. Dt. Toeah

 

Djamaran H. Dt. Toeah, atau yang lebih akrab disapa Datoek Toeah, adalah figur menonjol yang berasal dari Nagari Koto Nan Godang, Payakumbuh. Dt. Toeah meninggal 22 September 1965, bukan sekadar seorang penghulu yang memegang teguh tradisi, melainkan juga seorang pengarang buku adat dan pengusaha yang memiliki visi modern. Kehidupannya adalah perpaduan menarik antara pelestarian nilai-nilai luhur Minangkabau dengan adaptasi terhadap perkembangan zaman, menjadikannya sosok yang patut dikenang dan diteladani.

Kiprah Datoek Toeh sebagai seorang pengusaha terentang sejak tahun 1926 ketika beliau memilih Bukittinggi sebagai pusat aktivitas dagangnya. Kepiawaiannya dalam berbisnis kain beludru dan sutera hitam, komoditas penting untuk pembuatan kopiah, mengantarkannya pada kesuksesan. Merk dagang cap “Balai Gadang” yaitu Balai Adat Nagori Koto Nan Godang Payakumbuh bukan hanya sekadar label, melainkan juga representasi identitas dan kebanggaan akan asal-usulnya. Detail menarik tentang pencetakan cap dagang di Amsterdam dan desainnya yang digarap oleh putera sulungnya, Alim Bachtar, yang saat itu masih seorang pelajar di HIS Payakumbuh, menunjukkan sentuhan modernitas dan keterlibatan keluarga dalam usaha beliau. Langkah ini juga mengisyaratkan pandangan Datoek Toeh yang terbuka terhadap dunia luar dan pentingnya pendidikan.

Kendati sukses dalam dunia niaga, panggilan adat tetap bersemi dalam diri Datoek Toeah. Permintaan keluarga untuk mengemban amanah sebagai penghulu tidak langsung beliau terima. Sikap hati-hati dan keinginan untuk memahami seluk-beluk adat istiadat Minangkabau secara mendalam menjadi bukti akan keseriusan dan tanggung jawabnya. Proses mempelajari adat inilah yang kemudian melahirkan mahakaryanya, "TAMBO ALAM MINANGKABAU". Buku ini, yang awalnya ditulis dalam huruf Arab Melayu dan dicetak hingga lima kali, menjadi sumber pengetahuan penting tentang sejarah, silsilah, dan hukum adat Minangkabau. Keberhasilan penjualan buku ini tidak hanya menunjukkan kebutuhan masyarakat akan pemahaman adat tetapi juga visi Datoek Toeah dalam menyebarkan ilmu pengetahuan.

Langkah progresif Datoek Toeh semakin terlihat dengan pendirian Percetakan Limbago di Payakumbuh. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat infrastruktur intelektual di daerahnya, tetapi juga menjadi wadah untuk mentransformasikan "TAMBO ALAM MINANGKABAU" dari huruf Arab Melayu ke huruf Latin. Peralihan ini merupakan langkah modernisasi yang signifikan, membuka akses pengetahuan adat kepada khalayak yang lebih luas dan mempermudah pemahaman bagi generasi muda. Tindakan ini menunjukkan kesadaran Datoek Toeah akan pentingnya adaptasi dalam melestarikan warisan budaya.

Karya-karya Datoek Toeh, termasuk "Tambo Minangkabau dan Adatnja" yang ditulis bersama Dt. Madjoindo dan "Serial Sastra Budaya Minangkabau: Tambo Alam Minangkabau" yang diedit oleh A. Damhoeri, menjadi warisan intelektual yang tak ternilai harganya. Buku-buku ini tidak hanya merekam sejarah dan adat Minangkabau, tetapi juga menjadi cerminan pemikiran seorang tokoh yang mampu menjembatani antara tradisi dan modernitas. Datoek Toeh meninggalkan jejak yang mendalam bagi masyarakat Koto Nan Godang dan Minangkabau secara keseluruhan, sebagai seorang tokoh yang mampu melihat ke masa depan tanpa melupakan akar sejarahnya. Kisah hidup dan karya-karyanya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya untuk menghargai warisan budaya sambil tetap terbuka terhadap kemajuan zaman.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url